Saturday, October 25, 2014

AproGear Wristband Smartwatch

AproGear Wristband Smartwatch: Keep track of your health and fitness progress with the AproGear Smartwatch. The smart wrist-mounted tracker features a built in pedometer, calorie counter and sleep tracker to help quantify and measure your daily activity. Sync the smartwatch with your smartphone and track your fitness history with the custom built app. The AproGear Smartwatch is a high-tech companion to aid your journey to a healthier life.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LEtZT

Saturday, September 20, 2014

Aku Masih Setia Untukmu

Lukisan cintamu sangat indah menghiasi hatiku Bagaikan embun yang teduhkanku di pagi hari Sangat jelas terasa terangmu mengikuti jejak langkahku Betapa ingin ku jadikan kau sebagai pendamping hidupku Jangan pernah ragukan aku ketika jarak memisahkan kita Karena aku tau apa yang harus aku lakukan ketika ragaku jauh darimu Setia bukan hal yang sulit untukku Karena aku tlah menjadikannya sebagai hal yang terpenting dalam hubungan kita Bingkaian kata cinta bukan hanya gombal semata Karena semua tentangmu adalah keindahan bagiku Ingin ku persembahkan bintang malam untuk temanimu dikala sepi menghampirimu Karena aku tak bisa selalu ada untuk temanimu Rindu adalah kata2 yang selalu ku ucapkan Hingga aku mampu merangkai kata ini untukmu Semoga kau mendengar segala yang ingin ku samapaikan Bahwa aku mencintaimu dari dulu,sekarang, dan selamanya..

Wednesday, September 17, 2014

Alasan Cinta

Sudah 14 hari kau koma dan hanya diam kaku terbaring di ranjang kebesaran rumah sakit ini, tanpa ada sedikit pun obrolan walau aku selalu ada di samping kirimu. Air mata ini tak berhenti menetes, pertanyaan yang ku utarakan tak pernah kau gubris. Aku sedih, aku benci. Mengapa tak menggubris? Apa salahku hingga kau hanya diam saja? Lidahku terasa pahit tak sanggup merasa setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. Nasi dan tempe kesukaanmu bagai menumpang lewat ke dalam setiap organ tubuhku untuk kemudian keluar kembali. Selang-selang pada tubuhmu membuatku bingung. Mengapa harus berada disana? Bukankah itu selang yang selalu kita pakai untuk menyiram lili kesukaanmu? Sudah 14 hari kita tak menyiram lili lagi. Selang itu membuatmu terperangkap dan aku hanya bisa meratap. Ia menang atasmu untuk kali ini. “Gie, kamu cinta nggak sama saya?” “Kenapa kamu nanya gitu? Pastilah saya cinta sama kamu” “Kenapa kamu bisa cinta sama saya?” “Kenapa ya?” “Ayo dong jawab. Masa kamu nggak tahu kenapa kamu bisa cinta sama saya?” “Saya nggak bisa jelasin, tapi saya bener cinta sama kamu” “Gimana saya mau percaya kalau kamu nggak jelasin alasannya?” “Saya nggak tahu gimana ngejelasinnya. Yang pasti saya suka, saya sayang, saya cinta sama kamu” “Bohong kamu. Andi aja bisa ngejelasin alasan kenapa dia bisa cinta sama Sasi. Masa kamu nggak bisa sih Gie? Saya pengen tahu alasan kamu” “Gimana kalau saya kasih bukti aja? Terlalu sulit buat saya ngungkapinnya lewat kata-kata” “Nggak mau” Aku selalu bingung dibuat oleh pertanyaanmu dan semakin bingung kala kau tak mau kuberikan bukti. Pada akhirnya aku harus membohongimu. Setiap alasan mengapa aku mencintaimu kupaparkan dengan jelas walau hatiku tidak berkata sama. Kau cantik, suaramu merdu, senyummu menggoda, sikapmu bijaksana dan peduli, dan setiap gerakanmu membuat aku suka. Sungguh jawaban ini tak berasal dari hati kecilku, namun aku tahu setiap wanita selalu tersenyum mendengar jawaban ini termasuk dirimu sayang. Memang senyum itu terlukis di wajahmu, sayang itu hanya bertahan sebentar. Mobil itu telah merampas semua milikmu. Kecantikanmu telah musnah, warna merah mendominasi wajahmu yang dulunya putih merona. Senyummu tak lagi bisa kulihat, bibirmu telah kaku dan tak bisa bergerak. Suaramu juga tak bisa kudengar, kau hanya diam, diam, dan diam. Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir merah jambumu. Kau juga tak lagi terlihat bijaksana apalagi peduli. Saat air mata ini tak mampu tertahan, kau tak berusaha untuk menghapusnya. Kau justru diam dan menutup matamu. Sekarang kau tak lagi memiliki hal-hal yang menjadi alasanku mencintaimu. Jika sudah seperti ini, apa kau masih layak untuk kucintai? Haruskah aku tetap mencintaimu di tengah ketidakberdayaan tubuhmu, keburukan wajahmu, dan ketidakpedulianmu? Tidak mungkin aku mencintaimu lagi, karena kau tak lagi sama seperti dahulu. Kau selalu marah jika aku tak mampu mengungkapkan alasanku mencintaimu, hingga akhirnya aku harus berbohong dan mengucapkan alasan yang sama sekali tak ingin kuucapkan. Sejak dulu aku mencintaimu tanpa alasan. Aku tak tahu mengapa aku menyukaimu dan mengapa akhirnya aku mencintaimu. Namun sungguh aku mencintaimu. Detik ini dan untuk selamanya aku tetap mencintaimu. Aku tak peduli bagaimana keadaanmu sekarang, yang kutahu cinta tak membutuhkan alasan.

Amnesia

Gorden putih yang menutupi setengah dari ventilasi yang terbuka itu, membuat cahaya matahari pagi masuk memancarkan sinarnya, hingga meronakan wajahku yang kuning langsat ini. Kehangatannya terlalu dalam untuk dihayati, lalu terbersit dalam hati untuk memejamkan mata sambil berusaha menerka-nerka. Hujan memang baru saja berakhir, lalu pelangi secara beriringan memadu warna di langit dan ditambah dengan pemandangan danau di tepian taman yang bisa kulihat dibalik ventilasi yang setengah terbuka ini. Sungguh membuatku merasa sangat nyaman, betul-betul nyaman. Namun semua kenyamanan itu sirna, ketika aku tersadar, hari itu aku hanya bisa berbaring menyelimuti diri dan terkadang meringis sakit karena bekas luka yang ada di dahiku. Entah apa yang terjadi. Dua hari yang lalu aku baru tersadar, aku sudah dalam keadaan yang tidak layak untuk dikatakan sehat di Rumah Sakit yang menurutku mewah dan aku pun lupa. Lupa, lupa semuanya. Memori yang teringat hanyalah ilmu-ilmu pasti yang sepertinya pernah kupelajari. Bahkan, aku lupa namaku dan dimana alamatku sekarang. “Nabila, sayang.” Lagi-lagi perempuan paruh baya yang mengaku ibuku itu memanggilku dengan sapaan itu. Seperti biasa, setelah Ia memanggilku, Ia membantu tubuhku yang lemas ini untuk terbangun atau lebih tepatnya duduk lalu mengusap-usap pipiku. Aku hanya bisa termangu melihatnya yang selalu tersenyum syahdu kepadaku, namun Ia tak bisa menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya yang keriput itu. Tapi ada hal yang ingin aku ketahui darinya, karena sepertinya ada sesuatu hal yang sedang disembunyikan dariku. “Nabila, ayo makan.. Mama belikan bubur kesukaan kamu.” Ucapnya dengan senyum sumringah. “Bubur kesukaanku? Bubur ini lagi..” “Iya, ini bubur kesukaanmu, ayo makan lagi.” “Hmm ma.. Aku tidak merasakan kenikmatan memakan bubur ini lagi semenjak kemarin. Aku rasa indra perasaku sudah mulai tidak peka dengan makanan enak. Entahlah.. ma.” Wajahnya langsung tertunduk kaku dengan penuh kebingungan. Lalu ia merogoh-rogoh tas belanjaannya dan mencari-cari sesuatu yang hendak ia ambil. Ah, sebenarnya apa yang terjadi dengan semua ini. Apakah aku bukan anaknya? Lalu mengapa ia sangat menyayangiku? Apa yang sedang ia sembunyikan? Aku mengalihkan pandanganku kembali pada ventilasi yang setengah terbuka itu dan kembali menerka-nerka. Ada satu keinginan yang tiba-tiba saja muncul, yaitu keinginan untuk bertemu dengan seseorang. Aku tidak tau dia siapa, tetapi entah mengapa aku sangat merindukannya. Apakah ayahku? Sepertinya kurang tepat. “Oh ini nabila, ada apel, kamu suka kan?” Tegur ibuku kembali dengan sumringah sambil menyuguhkannya tepat di depan wajahku. Seketika pandanganku langsung tertuju padanya. Apel merah itu terlihat sangat segar namun aku seperti tak ada gairah untuk memakannya. “Aku mau pulang saja ma, bertemu ayah, dan siapapun yang bisa kutemui” jawabku dengan menatap mata ibuku dengan lekat-lekat. “Tok tok tok” bunyi ketukan pintu kamar ini, mengalihkan perhatian kami berdua. Ibuku langsung berdiri dan dengan cepat melangkah perlahan-lahan ke arah pintu dan membukanya, lalu menutupnya kembali. Dari kaca buram pintu itu, aku melihat ibuku bersama dengan seorang pria. Tidak terlalu jelas, mereka seperti membicangkan banyak hal. “Mungkin dokter atau petuagas kebersihan di Rumah Sakit ini.” Pikirku. Tak beberapa lama kemudian ibuku kemudian masuk kembali, lalu membuat segumpalan plastik berisi di sudut kamar ini. “Itu apa ma?” Tanyaku penasaran. “Sampah nak, tadi ada di depan kamar, mama buang saja. Petugas kebersihannya gak becus.” “Oh begitu..” kataku dengan nada datar dan sedikit mengangguk. Setelah berjam-jam aku berbincang-bincang dengan Ibu, Ia berniat untuk pulang, dengan alasan masih banyak kerjaan rumahnya yang menumpuk. Lalu ia langsung memalingkan tubuhnya dariku. “Kapan-kapan ajak papa ya ma, aku mau melihatnya.” Ia memberhentikan langkahnya, dan berkata “Iya nak..” dengan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun dan Ia langsung bergegas pergi. Setelah ia pulang, hawa sepi kembali menggerogotiku. Walaupun kehadiran Ibuku tak serta merta membuatku nyaman, namun setidaknya Ia selalu berusaha menemani hari-hariku. Aku mendongakkan kepalaku seraya memejamkan mata. Lalu aku tiba-tiba tersentak dengan pikiran sampah yang tadi Ibuku buang. Aku mengalihkan perhatianku pada tempat sampah itu. Karena rasa penasaran itu, aku berusaha bangun, bukan hanya duduk tetapi berdiri bahkan berjalan dengan tertatih menuju tempat sampah itu. Ketika kubuka tutup tempat sampah itu, ternyata buntelan plastik itu masih ada dan utuh. Aku mengambilnya dan membukanya, tak kusangka itu adalah sebuah nasi bungkus. Kubuka karetnya, lalu bungkus kertas nasinya. Ternyata, itu sebuah nasi uduk dengan iringan lauk ayam goreng dan lalapan yang wangi sekali. Entah mengapa aku berniat untuk mencicipinya. Aku mengambil sesuap nasi itu dengan tanganku, dan menyuapi sendiri ke mulutku. Sungguh enak, aku seperti pernah memakanya, aku sangat menyukainya. Tak sadar aku sudah menghabiskan semua isi di bungkusan itu. Setelah habis, aku buang kertas nasi bekas dan plastik itu ke tempat sampah. Ketika plastik itu terbuang, tiba-tiba ada secarik kertas terlipat yang terjatuh ke lantai. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambilnya lalu membuka lipatannya. Aku melihat sebuah tulisan, “Selamat makan, sayang.. ini makanan kesukaanmu.” Apakah ini dari ibu? Tapi tidak mungkin, ibu bilang makanan kesukaanku bubur. Oh tapi bisa jadi ia mempunya banyak pilihan makanan untukku yang Ia pikir aku tak suka. Seminggu telah berlalu dan aku juga belum pernah menemui ayahku. Ibu mengajakku untuk pulang dan berjanji akan mempertemukan aku dengan ayahku. Di dalam mobil, aku hanya terdiam menunggu-nunggu untuk sampai ke rumah. Aku hanya ingin mencari tau siapa orang yang sebenarnya ingin kutemui. Ayahku atau orang lain. Ketika sampai, aku melihat sekeliling perkebunan dan rumah yang sepertinya sudah familiar, namun sepertinya aku tak menjamin kenyamanannya. “Itu papamu nak”. Aku melihat seorang laki-laki tua di depan rumahku dan langsung memelukku erat. Aku senang, namun sepertinya perhatianku tidak tertuju padanya. Aku kembali frustasi dengan keingintahuanku itu. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hujan belum juga berhenti. Aku duduk di ruang tamu, sambil menonton tv. Kusenderkan bahuku ke sofa, lalu kualihkan kembali perhatianku pada jendela yang setengah terbuka di samping pintu masuk. Aku melihat sosok seorang pemuda, berdiri di depan pagar rumahku, berbolak balik dan keliatan agaknya mencurigakan. Karena aku takut, kuurungkan niatku untuk memenuhi rasa penasaranku. Aku langsung berlari masuk ke kamar dan menutup diri dengan selimut yang ada di tempat tidurku. Ketika kurebahkan tubuhku ke tempat tidur, di samping bantalku terdapat sebuah tas jinjing yang kotor seperti sehabis terlindas ban mobil besar. Di dalamnya terdapat handphone, dan dompet. Aku buka dompet itu dan berusaha mencari tau. Foto yang tertera di dompet itu adalah jelas fotoku dan berarti tas ini adalah milikku. Ada juga gumpalan kertas yang seperti habis diremas-remas. Kubuka perlahan-lahan kertas itu dan tertera tulisan “SURAT PHK” dan ada nama “Hadi Purnama.” Ah mengapa aku memiliki perasaan cemas, kepalaku langsung sakiit dan tak kuasa menahan air mata. Terlintas bayangan samar-samar seorang laki-laki, ia tersenyum. Oh tiba-tiba terbayang wajah ibu dan ayah yang sedang bertengkar. Ah, ada apa ini?!! Tangisanku langsung pecah. Sepanjang malam aku hanya menangis memeluk tas kotorku itu. Jam sudah menunjukkan jam 12 malam dan hujan masih awet, masih nyaman untuk terus jatuh lalu menggenangi jalanan. Aku tak mengerti jalan hidupku, aku ingin pergi dari rumah ini karena yang ada di pikiranku adalah agar aku bisa bertemu dengan orang yang bernama Hadi Purnama. Aku pergi diam-diam dari rumahku tanpa arah dan tujuan lalu menangis tersedu-sedu di jalan seperti orang tak waras. Tiba-tiba aku lemas tak berdaya lalu terbaring begitu saja di jalanan, dibaluti oleh guyuran hujan dan genangan air. Suara kicauan burung membangunkan tidurku. Tiba-tiba aku sudah berada di tempat tidur dan ada suguhan nasi uduk dan ayam serta lalapan wangi di samping tempat tidurku. Aku hampir mengingat susana ini, kamar yang ada sekarang. Kembali aku dikagetkan dengan pintu kamar yang terbuka oleh seorang pemuda. Ya, pemuda itu adalah yang orang yang kulihat bolak-balik malam kemarin di rumahku. Dia… dia adalah… dia adalah.. aku berusaha mengingatnya. Ia menatapku lekat-lekat dan mengusap-usap pipiku. Tangisku kembali pecah dan aku langsung memeluknya erat. “I love you Hadi, maafkan aku..” itu yang aku ucapkan pertama kali padanya karena tak lain Ia adalah suamiku. Aku ingat, bagaimana Ia begitu menyayangiku selama setahun ini. Dan aku juga ingat bagaimana keadaan pada saat suamiku diPHK oleh kantornya. Ketika aku tahu kabar PHK itu, aku langsung meremas kertas itu dan memeluknya sambil mengatakan bahwa jangan pernah takut karena aku akan selalu bersamanya. Namun, agaknya tak seperti itu yang dipikiran ibuku. Ia menyuruhku untuk menceraikan suamiku, dan melarang aku untuk kembali tinggal bersamanya. Aku juga ingat, bagaimana keadaan keluargaku pada saat-saat ibu dan ayahku bercerai 2 tahun yang lalu. Ibu sangat membenci Ayahku. “Makasih ya sayang, kamu masih mengingatnya..” ucapnya lalu mengecup kenigku. “Sayang, mengapa tak kau jenguk aku selama di rumah sakit?” “Mamamu.. mamamu yang tak memperbolehkan aku untuk..” Ia berhenti berucap, seperti menahan pedihnya sesuatu yang tertancap di hatinya. “Aku tahu aku tahu sayang..” ucapku seraya kembali menenangkannya, dan merebahkan dirinya di pangkuanku. Aku kembali memeluknya erat, aku sangat menyayangi suamiku dan aku takkan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun. “Aku pikir kamu mati dalam kecelakaan itu nabila..” Aku hanya terdiam dalam dekapannya sambil terus menangis mendengar ucapannya itu. Ternyata orang yang kucari itu adalah suamiku. Mungkin karena aku sangat mencintainya, dalam keadaan amnesia pun aku tetap merindukan keberadaanya.

Jangan Pergi

Eci adalah Gadis remaja yang berusia 15 tahun. Eci adalah gadis yang lucu, imut dan juga cantik. dia juga wanita terfavorit di sekolahnya, siapa sih yang gak kenal sama Eci? dia mempunyai 2 sahabat yang bernama felys dan Jasmine, mereka berdua baik banget sama Eci. Teng..!!! Teng!!! Teng!!! lonceng pun bunyi waktunya pulang “eh Eci gue pulang duluan yah, soalnya gue mau ke rumah tante gue, biasa ada hajatan” kata Felys “iya udah gak papa” jawab eci mengangguk “Gue juga ci mau cabut soalnya papa gue udah jemput”. kata Jasmine buru-buru. Sekolah pun tampak sepi, anak-anak sudah pulang. Tinggal Eci yang duduk sambil menunggu sopir pribadinya. “Aduh!!, lama banget, mana sendiri lagi disini”. sambil mengotak-ngatik handpone. “DOR!!!” kejut ray dari belakang “eh kamu Ray, aku kirain tadi setan, hahha” “kamu belum pulang?” “belum, aku lagi nunggu jemputan” “Jemputan siapa ci? pacarnya yah?” “eh nggak, sopir pribadi gue” “huuu, aku kira pacar kamu!” “Gak nyangka Ray negur aku, hmm.. kayak ngerasa mimpi nih, mana aja cowok sekece dia, bisa negur aku makasih Tuhan” kata eci dalam hati. “eh eci kok kamu malah bengong?” sambil melambai-lambai tangan “gak-gak kok, aku gak bengong” “daripada kamu bengong kayak gini, mending kamu pulang bareng aku aja gimana?” “Hmmm.. tapi aku udah minta jemput” “Ayo donk, satu kali ini aja, please!!” “iya-iya” ambil sms sopirnya kalau dia gak usah jemput Saat di jalan ray dan eci pun cerita-cerita, hati eci pun mulai dag-dig-dug. Eci sudah lama kagum sama ray dan eci suka sama Ray. “Rumah kamu dimana ci?” “Di jalan Terompet nomor 7 Ra” “oh iya-iya” Sesampai di depan rumah eci Ray berkata “ci, mau gak nanti malam kita jalan” “ok emang jam berapa?” “sekitar jam 19.00, gimana.” “ok!!” “aku pulang dulu ya eci” “ya udah kamu hati-hati Ray, maksih udah ngantar aku pulang” “ok cantik sama-sama” Eci pun capek, dan dia pun tertidur, selesai tidur eci nonton tv, kebetulan filmnya bagus cocok banget film cinta-cintaan. “Bik!” teriak Eci. “ya non ada apa?” “tolong buatin Jus strawbwrry kayak biasanya ya bik” “Baik non”. Karena terharu, eci pun menangis. sementara bik nena mengantarkan jus strawberry kesukaannya Eci, “non ini jusnya”. “iya bik, maksih” “iya non sama-sama, loh kok non nangis?” “gak ah bik cuma sedih aja liat filmnya” “ya udah bibi ke dapur dulu non” “ya bik” Adzan pun berkumandang dan Eci segera melaksanakan sholat magrib, selesai sholat eci langsung buru-buru. “waduh, aku harus buru-buru nih, nanti Ray udah mau jemput” Eci pun siap-siap mau dandan, ia dandan secantik mungkin dan memakai gaun kesayangannya yang berwarna biru itu. Tepat pukul 19.00 bik nena pun memanggil eci, “maaf non, ada laki-laki yang mau ketemu non” “Hmm.. itu pasti ray, makasih bik” “sama-sama non” Eci pun bergegas cepat-cepat mau ketemu Ray “Hey ray, kamu udah lama yah nunggu aku?” “oh gak ci, ayo jadi kan jalannya?” “iya jadi, ayo” Setelah keiling-keliling, Ray pun mengajak eci ke cafe. “kok kita kesini Ray?” “iya, aku tau kamu lapar kan” “Eci pun tersenyum malu” Selesai memesan makanan, Ray menepuk tangan sampai 3 kali, kembang api pun berwarna-warni di atas langit. TORR!! TORR!! TORR!!, “eci coba kamu liat diatas langit sana”, kata ray sambil menunjuk tulisan I LOVE U ECI. “WAW!!, bagus banget ray, itu kamu yang ngerencanain”. Ray pun mengangguk ray megajak eci duduk di depan danau, dan dikelilingi lilin-linin kecil. Ray pun mengasih eci setangaki mawar merah. “ini buat kamu ci” “Wah, makasih yah ray kamu bisa tau kalo aku suka mawar merah.” “iya donk, apa yang gak tau tentang kamu ci, eci aku mau ngomong sesuatu sama kamu”. “emangnya kamu mau ngomong apa sama aku Ray?” “Eci sebenarnya aku suka kamu dan aku juga sayang sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku?” sambil memegang tangan eci Eci mulai kaku, gugup dan gak nyangka kejadiaannya bisa kayak gini. “iya… iy.. ya Ray aku mau kok jadi pacarnya kamu”. “makasih yah eci aku bakal setia, dan aku pengen kamu jadi milik aku seutuhnya, dan gak ada satu pun lelaki yang bisa memiliki hati kamu” “iya ray, aku akan jaga hati aku” Jam menunjuk angka 22.00, mereka pun pulang sampe di rumah eci pun senang bisa jadian sama Ray, dan gak nyangka bisa jadian sama ray. Keesokan harinya felys dan jasmine pun menggosek Eci tentang kejadian tadi malam. “ciyee Eci, udah jadian nih sama sih ray” kata Felys “iiisss felys apa-apaan sih, aku gak jadian kok sama Ray”. “Aduh gak mau ngaku lagi, Boong yah sama kita, Ray sendiri kok yang bilang sama kita, ya kan felys” “heehehe iya, ngomong-ngomong jangan lupa traktirannya” “ok, tenang aja” Bel masuk pun bunyi dan para siswa pun masuk kelas seperti biasanya. Siang harinya pulang sekolah, sekitar jam 14.00 felys, dan Jasmine ditraktir makan bakso “eh iya ci, gimana sih asal muasalnya kamu itu bisa jadian sama Ray?” kata Jasmine “susah ngejelasinnya Jasmine” “Hmm… pasti romantis banget kan?” “HIHI, Iya pasti donk” Selesai itu mereka pun pulang ke rumah masing-masing 3 tahun kemudian adalah akhir perpisahan dan banyak sekali kebahagiaan, suka maupun duka yang mereka lewati bersama, saat perpisahaan sekolah, mereka bertiga berpelukan dan menangis. “Eci, jasmine, semoga kalian ingat terus ya sama aku, kalian gak boleh ngelupain aku” kata felys. “Felys, Eci aku juga gak bakal ngelupain kalian berdua” jawab Jasmine “iya Jasmine, Felys aku juga gak bakal ngelupain kalian berdua, ini kado janji kita dulu, kalau kamu kangen sama aku, liat aja isi kado ini. kalian tetap selalu ada di hati aku walaupun kita jauh, aku gak bakal ngelupain felys yang imut dan juga jasmine yang manis. aku sayang kalian berdua” Mereka pun berpelukan bertiga dan Ray pun memanggil eci “eciiii” “ya ray, kenapa?” “besok aku mohon sama kamu, kamu mau kan antar aku kebandara” “emang kamu mau kemana?” Keesokan harinya ecipun mengantar ray ke bandara. Dan ray memberikan sesuatu pada eci, yaitu sebuah cicin. “eci ini cincin dariku, tolong dijaga dan dirawat dengan baik yah. soalnya aku mau ngelanjutin sekolah aku di luar negeri” “ray jangan tinggalin aku” “tapi gimana ci, aku juga gak mau ninggalin kamu, kamu baik-baik yah” “iya ray, kamu jangan nakal yah” “iya aku gak nakal kok, bye eci” “bye ray”. Udah hampir 2 tahun eci dan ray berhubungan jarak jauh, dan eci sangat merindukan ray. handpone eci berbunyi ternyata yang menelpon ray “hai eci” “hai juga” “kamu gimana kabarnya?” “baik, kamu?” “aku juga baik, oh ya eci aku bentar lagi akan pulang ke prabumulih”, “beneran?” “iya aku mau ngerayain ulang tahun nya kamu.” “hm.. makasih ray” Panggilan pun terputus, keesokan harinya saat bik nena nonton tv cepat-cepat bik nena memanggil eci. “non eci!!” “iya bik kenapa?” sambil membawa secangkir susu cokelat “itu non lihat di tv” “ASTAGA!!! ray” gelas pun pecah “itu gak mungkin ray, itu bukan ray bik”. “itu ray non” kata bik nena memastikan. RAY ADITYA WINATA penumpang dari BANGKOK. oh ray aku gak nyangka bisa kayak gini, ya Tuhan kenapa ray harus pergi secepat itu.

A Hope of Disha

Di malam yang gelap itu, aku termenung sendirian di dalam kamarnya. Ya, aku adalah Disha. Aku sedang memikirkan kekasihku yang sangat aku sayangi. “Disha” 1 pesan SMS masuk di handphoneku dari kekasihku, Mas Akhmad. Ya, nama kekasihku adalah Mas Akhmad. “Iya mas, ada apa?” aku pun membalas SMS dari kekasihku. Walaupun sebenarnya aku terlalu berat untuk membalas pesan SMS dari Mas Akhmad. Karena, ada masalah di antara kita. 1 minggu yang lalu, aku diajak kencan sama Mas Akhmad. Tetapi, aku menolaknya. Karena, aku ada janji sama Dwi, sahabatku. “Ya sudah kalau kau tak mau kencan denganku, aku akan kencan dengan perempuan lain” pesan dari Mas Akhmad di handphoneku. ALLAHU AKBAR. Aku pun tidak membalas pesan SMS dari Mas Akhmad. Di hari libur, semua anak akan merasa senang karena akan libur panjang. Tetapi, tidak denganku. “Sayang” SMS masuk dari Mas Akhmad. Aku tidak langsung membalas SMS dari Mas Akhmad. Di hatiku, masih ada rasa kecewa kepada Mas Akhmad. 15 menit kemudian, aku pun membalas SMS dari Mas Akhmad. “Apa” hanya satu kata yang kukirimkan untuk membalas pesan SMS dari Mas Akhmad. — “Dwi, aku sakit hati. Tega teganya Mas Akhmad bilang kayak gitu sama aku. Sebenernya Mas Akhmad sayang gak sih sama aku. Sampai sampai Mas Akhmad kayak gitu sama aku.” Ujarku yang sedang mengeluarkan unek uneknya kepada Dwi, sahabatku. “Kamu yang sabar aja, Dis. Dia sayang kok sama kamu. Mungkin dia lagi ngetes kamu Dis” Ujar Dwi memberi kesimpulan kepadaku. “Apa Dwi? Ngetes? Tapi kan gak segitunya kalo Mas Akhmad mau ngetes perasaan aku” Ujarku yang emosi tetapi dicoba untuk ditahan. “Yang sabar ajah, Dis. Mungkin, Allah sedang memberi cobaan biar kamu tetap tegar” Ujar Dwi kemudian memelukku. Malam minggu pun tiba. Tetapi aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Menangisi kekasihku yang sangat aku cintai. Mas Akhmad, sebenernya Disha sayang banget sama Mas. Disha kayak gitu sama Mas karena Disha gak mau kehilangan Mas. Ya allah, lindungilah Mas Akhmad untukku, jagalah hati Mas Akhmad untukku, karena aku sangat menyayangi Mas Akhmad. Mas Akhmad, aku sayang banget sama Mas. Semoga Mas Akhmad selalu berada dalam naungan Allah S.W.T. Aamiin. - The End -

Tuesday, September 16, 2014

First Love Story

Ini kisah tentang cinta pertamaku.. Entahlah, apakah perasaan ini layak disebut cinta atau bukan, yang pasti perasaan itu masih ada menempel dengan kuatnya dihatiku.. Karena menurutku cinta memang tak terdefinisikan dan hanya bisa dirasakan. Tahun 2002 Aku menyukainya jauh sebelum dia mengenalku.. Kami dipertemukan di kota tempat kami menimba ilmu, aku sering berkumpul dengan teman-temannya, kadang kami berada di satu tempat yang sama namun tak pernah menyapa satu sama lain, mungkin karena dia sedang asyik dengan kekasihnya saat itu dan tak pernah menyadari kehadiranku. Rasa itu kusimpan rapat dan kubiarkan mengendap didalam hati. Tahun 2003 Ada sms dari nomor tak dikenal, aku melonjak kegirangan setelah tahu pesan singkat itu dari dia yang ingin berkenalan denganku dan ternyata dia sudah putus dari kekasihnya. Hari-hariku pun menjadi berbunga, kami bisa menghabiskan ratusan sms sehari untuk bercerita tentang hal yang sebenarnya tidak penting, kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan lewat telephone semalam suntuk (saat itu ada provider baru yang promosi ratusan sms sehari dan nelpon gratis semalaman) Aku tahu dia menyukaiku, tapi kenapa dia tak pernah mengatakannya langsung kepadaku? Aku mengetahui semua itu hanya dari temannya dan dari pesan singkat yang dikirimnya, sebenarnya aku ingin dia mengatakan itu dihadapanku, aku selalu menunggu dia mengatakan suka padaku tapi hal itu tak pernah terjadi. Mungkin dia menganggapku tak menyukainya sehingga dia pun menjalin kasih dengan sahabatku. Rasa itu kembali kusimpan dan kubiarkan mengendap didalam hati. Dia dan temanku tak bertahan lama, entah kenapa perasaanku sangat senang saat dia kembali sendiri, tapi tak lama kemudian dia bersama perempuan lain lagi, akupun kembali kecewa. Hal itu tidak mengurangi keakraban kami, walaupun tidak sedekat dulu lagi. Rasa itu tetap kusimpan dan tetap kubiarkan mengendap dihatiku. Tahun 2006 Akhirnya kami harus berpisah dan kembali ke kota masing-masing. Komunikasi kami masih cukup baik, setidaknya aku masih tahu kabar tentangnya. Kami sudah hidup dijalan masing-masing dan akupun sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Rasa itu tetap ada dan masih mengendap dihatiku. Tahun 2007 Berawal dari pertanyaan iseng melalui sms, “kapan kau akan menikahiku?” Aku kaget dengan jawabannya, dia ingin agar aku menunggunya menyelesaikan pendidikannya dulu. Sebenarnya aku sangat ingin mengiyakan. Tapi menunggu beberapa tahun tanpa kepastian? Lagipula tempat tinggal antara aku dan dia sangat jauh dan tidak memungkinkan untuk bersama kecuali salah satu dari kami mengalah (saat itu aku tidak mau mengalah untuk hal ini) Dan aku sudah mempunyai kekasih! aku tak mungkin mengkhianati komitmenku. Ah lagipula aku tidak tahu dia serius atau cuma bercanda dengan ucapannya itu. Akupun tak memikirkan hal itu lagi. Rasa itu kucoba menghilangkan tapi tetap mengendap dihatiku. Tahun 2009 Dia kembali! Aku sudah bekerja di kota lain, dia pun bekerja di kota yang tak jauh dari kota tempatku bekerja. Kami memang tak pernah bertemu tapi masih berkomunikasi lewat situs jejaring sosial. Rasa itu masih ada dan kubiarkan terus mengendap dihatiku. Tahun 2011 Kami bertemu! Ternyata sekarang dia tinggal di kota yang sama denganku. Hariku kembali berbunga. Dia mampu membangkitkan hidupku yang baru saja mengalami kegagalan cinta. Pernah aku berpikir kalau dia adalah jodohku, dari sekian banyak kisah yang kami alami dan sekian tahun terpisah tapi akhirnya dipertemukan kembali di suatu kota yang tak pernah kami pikirkan sebelumnya. Aku sangat bahagia. Aku kembali jatuh cinta dengannya. Tapi itu tak berlangsung lama, ternyata dia sudah mempunyai kekasih. Akupun berangsur-angsur menjauh karena tak ingin merusak kebahagiannya bersama perempuan itu. Sungguh hal itu sangat menyiksaku, aku tak dapat menahan perasaan yang sudah lama kupendam. Aku ingin mengakhiri perasaan itu, aku pun mengatakan apa yang kurasakan padanya. Aku tak ingin mendapat jawaban atas perasaanku, aku hanya ingin meluapkan apa yang kurasakan dan berharap dapat mengakhirinya. aku tak ingin merasakan penyesalan seumur hidup karena tak pernah mengatakan perasaan pada orang yang kucintai. Setidaknya itu dapat mengurangi bebanku dan dapat membuatku melupakannya. Rasa itu semakin menyakitiku dan mengendap semakin dalam dihatiku. Tahun 2012 Cinta pertama terlalu manis untuk dilupakan. Ya, aku takkan melupakannya. Kami masih berteman baik, dia masih ada disaat aku memerlukan seseorang untuk berbagi bebanku. dan rasa cinta itu tak akan kuhilangkan, tetapi akan ku rubah menjadi rasa cinta dalam bentuk yang lain. aku akan menyayanginya sebagai sahabatku. Dulu aku menganggap kalimat “aku bahagia bila kau bahagia” adalah omong kosong, ternyata setelah mengalaminya sendiri aku membenarkan kalimat tersebut. Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai memilih kebahagiannya sendiri ternyata juga bisa memberikan kebahagiaan bagi kita. Semoga aku pun bisa menemukan kebahagiaanku sendiri. Rasa itu akan terkikis dan akhirnya tak lagi mengendap dihatiku. Karena tak semua kisah cinta berakhir bahagia.

Semua Tentang kita

Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia. “Natasya, jangan sedih terus dong. Senyuum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku “gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.” Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan. Akupun baru tau kepergiannya setelah sehari dia pergi. Dia juga tak pernah mengabariku kenapa ia pergi. Yang ku tau, Arya harus meninggalkan sekolah lamanya bersamaku karna dia di tuntut kedua orang tuanya untuk tinggal di pesantren , tepatnya di daerah lampung. Akupun terpukul mendengarnya. “sya, lo gak bisa terus-terusan mikirin arya kaya gini. Dia itu gamau bilang kepergiannya karna dia gamau liat lo sedih. Coba kalo dia tau lo sedih kaya gini. Gimana sya.” “tapi gue kecewa banget wi, lo ga ngerti perasaan gue.” Sehari sebelum arya pergi, teman-teman sekelasku sebenarnya sudah tau akan kabar bahwa arya akan pindah dari sekolah. Tapi arya melarang mereka semua untuk memberitahuku dan merahasiakan semuanya. Ini juga karena arya gak ingin buat aku bersedih. Tapi justru malah sebaliknya . *** Seminggupun berlalu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Disekolah rasanya sepi tak ada arya di sisiku yang biasanya setiap hari menyapaku, tertawa bersama. Arya juga tak pernah mengabariku dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya sebelum aku tau alasannya mengapa dia tak memberitahuku tentang kepergian dan kepindahannya ke lampung. Aku mencoba melupakannya tapi aku tak bisa, perasaan ini menyiksaku. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak bisa menghapus kenangan Arya dari hatiku. “sya, maafin gue ya gue gak bilang sama lo . sebenernya gue udah tau Arya mau pindah dari sekolah, tapi Arya ngelarang gue buat bilang sama lo, katanya dia gak mau buat lo sedih. Lo pasti bisa dapetin yang lebih dari dia. Itu pesan arya buat lo.” Kata eza sahabatnya arya. Saat eza bilang semua itu kepadaku entah mengapa, hatiku gak bisa menerimanya. Aku menyayangi arya, hanya arya yang selalu ada di hatiku, dan dia yang terbaik untukku. Itu menurutku. “lo jahat za, kenapa lo gak bilang sama gue dan harusnya lo tuh ngerti.” “iya, maafin gue sya. Gue salah, tapi mau gimana lagi arya udah pergi dan asal lo tau sya. Dia sayang banget sama lo. Dia sebenernya gamau pindah, tapi karna desakan orang tuanya dia pindah ke pesantren.” “ gue kecewa za sama dia. Kenapa dia gak bilang dari awal?”kataku lemas Aku meninggalkan eza yang masih diam membisu diambang pintu kelasku. Aku gak mau mendengar semuanya lagi. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. andaikan waktu bisa berhenti berputar untuk saat ini, aku ingin kembali dan melihat arya untuk terakhir kali. *** Pagi hari di kelas, Seiring berjalannya waktu meskipun arya tak pernah mengabariku, dan mungkin dia sudah lupa denganku. Yaa, begitupun aku masih terus mencoba melupakannya. Hari-demi hari kujalani semuanya seperti normal dulu sebelum arya pindah dari sekolah ini. Aku hanya bisa mencoba untuk ikhlas dengan yang ku jalani sekarang. Andaikan ini semua mimpi, aku tak mau ini semua akan terjadi. Tetapi apa daya semuanya bukan mimpi, ini nyata. “sya...” panggil seseorang dari tempat duduk belakang dan ternyata itu eza , dia berjalan menghampiriku “apaan za?’’ kataku “sya, kemaren arya chat gue nanyain lo.” “terus?” “kok terus?” “iyaa, terus kenapa? Apa urusannya sama gue?” “adalah ” “apaan?” tanyaku sinis “dia masi nungguin lo.” “oh.” Jawabku singkat “dih ngeselin nih anak, emang lo gamau tau kabarnya dia?” “ah gatau gue, gue bingung sama dia , dia bilang sayang sama gue tapi apaan ninggalin gue gitu aja dan udah seminggu lebih gue gatau kabarnya.” “yaa lo tanya lah kabarnya gimana?” “ngapain ah za, gue cewek gengsi kali nanya ke cowo duluan.” Kataku agak jengkel “gue bingung ama lo berdua, lo sama arya sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mulai duluan. Gimana kalian mau jadian kalo sama-sama gengsi. Cinta, tapi munafik. ” “harusnya dialah, minta maaf enggak , kabarin gue juga enggak. Kalo gue disuruh milih untuk kenal sama dia atau gak, gue akan lebih milih enggak dari pada gue harus sakit hati kaya gini akhirnya...gue malah kecewa banget.” “yaaa, kemaren dia nanyain kabar lo, ya gue jawab lo sedih banget dia pindah.” “lo jujur amat si za, aaaah tau deh.” *** Hari terus berganti, meninggalkan semua kisah yang ada begitupun kisah ku dengan arya , aku bertekat untuk melupakannya. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. Setiap kali aku berdoa, mendoakannya untuk kembali bersama ku lagi seperti dulu tapi itu semua tak mungkin. Aku memang mencintai arya, tetapi tak pernah arya jujur akan rasa sayang dan cintanya kepadaku, selalu eza yang bilang kepadaku setiap kali arya curhat kepadanya. Aku bingung dengan semua ini, mencintai seseorang tanpa sebuah kepastian yang pasti. Tuhan..... jika memang dia yang terbaik untukku, jagalah dia disana tuhan... Jagalah hatinya untukku, dan jagalah hatiku untuknya... Aku disini hanya bisa mendoakannya, melihat nya dari kejauhan... Ini berat untuk ku jalani Tuhan... jauh dari seseorang yang aku sayangi..... Aku menyayangi dan mencintainya... tabahkan hatiku Tuhan... Tuhan .. hanya satu pintaku, jagalah iya saat aku jauh dari sisinya.... :’) Setiap malam setiap ada kesempatan aku berdoa dan menangis, akankah cintaku padanya akan kembali seperti dahulu menjalani hari-hari dengan penuh canda maupun tawa. Cinta ini membunuhku...kau adalah mimpi takkan pernah ku gapai. *** Sebentar lagi liburan semester tiba, 6 bulan sudah berlalu. Sebenarnya momen-momen itulah yang selama ini ku tunggu. Karna liburan sekolah Arya pasti pulang ke Jakarta dan ada kemungkinan kita akan bertemu lagi. Tetapi , mendengar kabar kalo Arya pasti akan pulang ke Jakarta hatiku biasa saja. Tidak ada getaran-getaran seperti dulu saat aku bersamanya, mungkin karena selama 6 bulan ini aku sudah terbiasa tanpanya, yaa meskipun awalannya aku sangat terpukul dan kecewa juga sedih. Tapi sekarang aku sudah mempunyai seseorang yang bisa menggantikan hati Arya di hatiku yaitu Aka sudah 6 bulan juga aku mengenalnya. Aka datang di kehidupanku ketika hatiku sedang hampa dan kosong tanpa arah. Dia menyembuhkan luka di hatiku, awalnya aku memang tak bisa melupakan Arya karna bagaimanapun juga Arya akan selalu tinggal di hatiku. Saat kepergian Arya, Aka lah yang selalu menemani hari sepiku selama 6 bulan aku mengenal Aka, bagiku dia adalah seorang cowok yang baik , pengertian, dan sabar. Sudah 3 kali Aka menyatakan perasaannya padaku , tetapi tak pernah ku jawab aku hanya bilang kepada aka kalo aku masih mengejar sesuatu. Aka pun mengerti, walaupun dia tak pernah tau aku masih menunggu seseorang , yaitu Arya. Dan Aka masih setia menunggu hatiku. Dan akupun janji akan menjawabnya, aku menerima cintanya atau tidak saat ulang tahun Aka nanti. *** Pagi di sekolah, “besok kita bagi rapot sya.” Kata dewi sahabatku “iya , gue takut nih jadinya masuk jurusan apa wi.” “udah yakin lo pasti IPA. “ “yaa mudah-mudahan aja kalo kita bisa satu kelas lagi, lo IPA dan gue juga.” “amiin.” “haaai semua.” Sapa eza sambil duduk di sebelahku “apaan si za, JB JB aje.” Kata ku “hahaha.... lagi ngomongin apaan si? Serius amat?” eza tertawa pelan “jurusan za...” kata dewi “oh gitu yaa... lo pasti mah IPA, kalo gue sih maunya IPS.” “yaa amin-amin mudah-mudahan kita masuk yaa.” Kataku “iyaa amin .” kata mereka berdua “eh sya, btw gimana perasaan lo sekarang sama Arya?”tanya eza kepadaku “yaaah, lo ngomongin Arya lagi.” Jawabku lemes “dia selau nanyain keadaan lo sama gue sya, ya gue jawab lo baik. Arya juga bilang kenapa dia gak nembak lo. Katanya dia , dia gamau nyakitin lo lagi emangnya lo mau pacaran jarak jauh sama Arya? Arya takut lo nolak dia, kalopun lo nerima dia, kasian elo nya arya gak pernah ada di samping lo . lo tau kan pesantren gimana? Dia pulang juga pas liburan.” “yaaa.. gue tau. Status menurut gue gak penting. Yang gue mau komitmen za. Kepastian. Dia sayang sama gue tapi dia gak pernah bilang ataupun jujur sama persaannya sama gue. Gimana gue mau percaya sama dia, bisa aja kan dia pacaran disana atau udah punya cewek pengganti gue? Gue yakin za. lagian 6 bulan udah berlalu. Gue mungkin bisa lupain dia, tapi gue gak akan bisa ngelupain semua kenangan tentang kita” “oh iya, liburan dia kesini sya. Dia pengen ketemu sama lo.” “gue gamau lah za, udah cukup yang dulu2 gue gamau nantinya keinget dia lagi. Sekarang gue udah punya yang lain, meskipun gue belum jadian sama dia. Tapi kita udah deket semenjak Arya ninggalin gue.” “siapa?” tanya eza “aka namanya za, dia ganteng putih jago main basket dan juga jago futsal.” Kata dewi yang menambah pembicaraan suasana menjadi semakin hangat “serius lo sya?” tanya eza tak percaya “iya, gue serius dan suatu saat kita pasti akan jadian.” Kataku padanya “jujur nih gue sya sama lo Arya disana banyak yang nembak dan banyak yang sukain. Lo mau tau semua cewek yang nembak dia banyak, terus dia tolak. Adapun anak SD nembak dia, dan katanya mirip sama lo.” “terus di terima?” kata dewi sahabat ku, yang duduk di sampingku sembari membaca novel “gue belom tau kabarnya. setau gue sih dia belum jawab mau nerima tu cewek apa enggak.” # Bel pun berbunyi *** Pagi hari, Hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu mama ku sudah bersiap-siap untuk mengambil rapotku. ketika sampai di sekolah , aku berpapasan dengan eza. eza tak melihatku mungkin dia gak sadar seseorang yang berpapasan dengannya itu aku. Setelah pembagian hasil rapot selesai ternyata alhamdullilah akhirnya aku masuk jurusan IPA, jurusan yang selama ini aku cari dan sudah aku rencanakan. “sya, tar abis bagi rapot main yuk.” Kata sari teman dekatku “okeey, siapa aja?” tanyaku “banyak lah. Pokoknya.” “okedeh.” “lo udah bagi rapot?” tanyanya “udah nih,” “wesss... ipa nih ye. Slamet yaa.” “lo emang belom?” tanyaku “belom, tar abis ini.” “oh okey, emng kita mau main apa?” “main UNO aja, hehe lo bawa uno?” “kagak sii, yaudah gue balik dulu yaa..tar samper gue aja.” *** Siang hari, “natasya, ayok berangkat main.. anak-anak udah pada ngumpul. Jangan lupa uno nya.” Aku naik motor di jemput oleh teman dekat ku sari. Setelah beberapa menit sampai di rumah sabi, akhirnya kita semua main UNO “sabi, si eza gak dateng?” “gatau sya, katanya mau pergi.” Sabi adalah teman deketku juga , karna rumahnya adalah basecame kami, tempat kami berkumpul dan bercanda bareng Tak lama sambil kita memainkan UNO , ada suara motor berhenti di rumah sabi. Ici temen ku keluar dan membuka pintu. Ku lihat dari arah jendela ternyata eza, tetapi disana ada seseorang lagi. Memakai helm dan sepertinya aku mengenalnya, Cuma dari jendela tidak terlalu kelihatan. Seseorang itu melepas helm nya dan ternyata... OMG ! batinku...... ternyata seseorang itu adalah... “sya, ada Arya tuh.” “hah ? serius lo sab?” “iya serius gue, tuh anaknya kesini kan.” Oh Tuhaan.... apa salahku, aku tak ingin bertemu dengannya. Tetapi sekarang kita malah di pertemukan. Apa ini takdirku Tuhan.. untuk bertemu dia lagi. Deg..... tiba-tiba saja terasa jantungku berhenti, getaran ini sudah lama tak kurasakan. Sangat berbeda sekali bila aku dekat dengan aka, tidak ada getaran seperti ini. ada apa ini?” batinku “sorry sya, dari awal kita semua sudah ngerencanain ini, untuk nemuin lo sama Arya.” Aku dan arya hanya tersenyum tipis. Tapi aneh sikapnya Arya, dia bener-bener berubah. Dia tak menyapaku. Bahkan menegurku itupun tidak. Apa yang terjadi Tuhan batinku. Apa dia sudah menemukan yang lain? Entahlah.... selama kita semua ngobrol, tetapi aku dan arya tidak juga saling tegur sapa, kenal.. tapi kaya ga kenal.. Arya seperti orang asing dalam hidupku. “sya, arya kalian berdua diem aja..” ledek mereka “ayodong kangen-kangenan apa kek gitu?” kata ici teman dekatku yang juga ikut meledek “tau lo ya, udah ada orangnya malah di cuekin. Giliran ga ada malah nyariin.”ledek eza “apaansih lo za, gajelas.” Jawabku sinis “yee lo berdua tuh cinta, tapi munafik. Sama-sama cinta tapi malu-malu gak ada yang mau mulai duluan. Gininih jadinya cuek-cuekan kalo ketemu.” Kenapa harus gue yang mulai duluan apa musti gue yang negur duluan? Siapa yang buat salah ? gue kah? Atau dia? Yang ninggalin gue siapa? Yang buat gue sedih siapa? Yang buat gue kecewa dan sakit hati siapa? Harusnya lo sadar Arya ! batinku meringis. “yaudah lah za, kalo mereka emang mau diem-dieman.” Kata sabi Aku hanya tersenyum ke arah mereka yang menatapku juga Arya. Setiap kali aku memergoki arya melirikku, dan aku juga meliriknya batinku nangis apa iya arya gak kangen sama aku, atau minta maaf? Tapi apa nyatanya... itu tidak sama sekali !! yang ku lihat dari sorotan matanya masih ada cinta dan rindu dihatinya. Akupun merasakan itu. Tatapannya, masih seperti dulu, dingin tetapi penuh arti dari sorotan matanya penuh keteduhan. Andai saja tatapan ini bisa membunuh, mungkin aku sudah terkapar olehnya. Akhirnya kita semua main UNO , mainan yang biasa kita mainin kalo gak ada mainan yang bisa dimainin . kita anak SMA tetapi masih main kartu UNO, yaa walaupun UNO buat semua umur. Eza pun membagikan kartu UNO nya. Dan kita semua main. Ternyata seiring berjalannya waktu, pertama sari keluar menang, disusul sabi, disusul eza, dan yang terakhir ici, yang salalu main UNO keringetan. Main UNO aja kok keringetan? Dan yang tersisa hanya aku dan aray. Permainan semakin menegang. Belom ada kepastian siapa yang menang aku ataupun aray. “ayodong menangin sya.” Teman-temanku menyemangatiku. Begitupun aray yang sibuk dengan kartu-kartunya . “udeh lo pasti menang deh ray.” Kata eza yang malah membela aray di banding aku “eh belom tentuu.” Kataku , daaaannnn..... “UNO ! “ aray mengucapkan kata itu bentar lagi dia menang karna kartunya tinggal satu 4+ ternyata.” aku pun kalah saat permainan itu. Tapi taapalah ini hanya sebuah permainan, akhirnya kita semua tertawa bersama. bahagia itu sederhana ... walaupun aku dan aray tak saling tegur sapa bahkan saat bermain aray tak juga menatapku. Tetapi dengan melihat aray tersenyum atas kemenangannya padaku. Aku sudah senang.” #Bahagiaitusederhana aku mungkin saja melupakanmu ketika kau pergi, dan jauh disana..tetapi cinta, perasaan kembali ada ketika kau datang waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Karna hari sudah sore akhinya kita semua memutuskan untuk pulang. Pertemuan yang sangat singkat antara aku dan juga Aray. Sampai pulang kita berdua juga gak ngobrol dan saling cuek-cuekan. Yaa... itulah aray dingin dan sangat cuek *** Malam , Aku masih teringat pertemuan singkat tadi siang. Ini semua seperti mimpi ataukah aku bermimpi?? Sambil memeluk boneka dan tepar di atas kasur aku memutar kembali saat 6 bulan yang lalu , saat aray meninggalkanku, dan pergi begitu saja tanpa kabar. Dan sekarang dia ada disini menemuiku. Aku tak mengerti apa maksudnya dret.. dret... ponselku bergetar, tanda sms masuk dan ternyata itu dari Aka. “natasya.. malem.. apa kabar?” “hei, baik kok Aka.” “oh gitu syukur deh.” “besok bisakan dateng kerumah Aka sya?” Ya Tuhan.. aku lupa besok tanggal 26 adalah hari ulang tahunnya Aka. Untung saja aku sudah menyiapkan kado untuknya jauh-jauh hari. “okey, besok natasya dateng kok.” “mau aka jemput?” “okeh” diakhiri percakapan pendek itu di sms dan akupun tertidur *** Esok hari, Jam 10:00 aka sudah sampai di depan pager rumahku. Aku pun pergi kerumahnya di boncengin naik motor satria nya. Di perjalanan dan di pikiranku kosong, entah apa yang aku fikirkan dan akhirnya setelah beberapa menit di perjalanan kita pun sampai di perumahan blok A rumahnya Aka, disana sudah banyak temen-temennya yang berkumpul. Juga sahabat ku putri. “ka. Ini kado buat kamu.” “yaampun natasya, pake repot-repot.” “yaa.. gpp kkok.” Kado yang aku berikan untuk Aka adalah angsa-angsaan biru hasil karya ku sendiri, juga striminan yang bertulisan namanya dan hari ulang tahunnya “Heemm ikut aku bentar yuk,” tanganku di gandeng aka ke arah taman komplek dekat rumahnya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Terlintas tiba-tiba di fikiranku. Aku lupa kalo aku berjanji akan menjawabnya iya atau tidak untuk menjadi pacarnya. “heem.. mau ngapain ya ka?” tanyaku terbata-bata aku masih tidak tau harus menjawab iya atau tidak untuk menerimanya. “adadeh.” Jawab aka Sesampainya di taman yang indah dan penuh bunga berwarna-warni disana terpampang bunga matahari yang menjulang tinggi juga pohon anggur di sekeliling taman. Di temani teman-teman aka juga putri sahabatku. Karna dialah aku bisa kenal dengan aka, setelah kepergian Arya 6 bulan yang lalu. Di tengah lapangan Aka melepaskan gandengannya. “natasya, bagaimana dengan jawaban kamu ?” “jawaban? Jawaban apa?” aku pura-pura tak ingat “jawaban, apa kamu nerima aku? Atau tidak.” Jleeeeeeebbbbb................ Ternyata Aka benar menagih janji itu. Aku tak tau kenapa bisa jadi begini. Awalnya aku memang sudah hampir bisa MOVE-ON dari arya, tapi apa? Arya datang kembali di kehidupanku. Menemuiku walaupun itu tidak sengaja bertemu. Tapi apa daya, Aka cowok yang selama ini 6 bulan aku gantungi perasaannya masa iya aku tolak. Cinta diantara dua hati itu tidak mungkin! Aku mencintai arya juga aka.. “natasya, kok diem?” tanya aka “hah? Iya...apa?” kataku terbata-bata Temen-temen aka yang menonton dan menyaksikan itu mereka semua menyoraki kita berdua... terima...... terima....... aku bingung saat itu. “kamu nerima aku atau tidak natasya... aku sayang kamu.” Di raih nya tanganku Setelah beberapa menit aku berfikir, akhirnya “iya Aka, Aku terima.”entah apa yang ku fikirkan tak sengaja aku mengucapkan kata-kata itu, terlambat sudah...... Yeeeeyyyy jadiaaaaan sorak mereka tambah ramai. Orang-orang yang ada di area taman bingung karena saat itu teman-temannya aka berisik dan rame. Meskipun saat itu aku malu. Aku memutuskan untuk menerima aka karna aku juga suka sama dia , walaupun aku masih mengharapkan arya untuk menjadi kekasihku. Tapi itu semua tidak mungkin , arya hanyalah mimpi bagiku takkan pernah ku memilikinya. “makasih natasyaaaa..... ini boneka taddy bear buat kamu” “iya... makasih yaa aka.” Aku tak menyangka akhirnya aku jadian juga sama aka, bertepatan dengan ulang tahunnya. Dia memberiku boneka taddy bear berwarna warna pink, Teman-teman aka juga memberi memberi selamat ke kita berdua. Taman itu menjadi saksi cinta kita berdua. *** Kejadian kemarin telah berlalu. Kini aku sudah menjadi milik orang lain . aku mungkin bisa belajar untuk menyayangi aka, namun mungkin tak sepenuhnya karna aku masih mengharapkan cintanya arya entah sampai kapan. Baru sehari kami berdua jadian, berita itu sudah menyebar sampai ke kuping teman-temanku terutama arya. Arya sudah mengetahui kalo aku sudah jadian , arya pun syok mendengar kabar tersebut yang datangnya dari eza. Eza adalah sahabatku sekaligus sahabat dan teman curhatnya arya . jadi apapun yang terjadi denganku pasti eza tau, dan bakal lapor ke arya. Ponselku tiba-tiba berdering , ternyata ada tlp dari ici sahabatku. “halo?” sapanya “iya ci, tumben tlp ada apa?” tanyaku “gpp, Cuma mau mastiin aja.” “apa?” “lo beneran jadian sama aka? Cowok yang sering lo ceritain itu ke gue?.” “iya ci.” “selamet ya sayang.” “eh iya makasih.” “oh iya, arya udah tau lo jadian?” “udah, sepertinya dari eza.” “iya, gue juga tau dari si eza . Kirain itu boongan ternyata beneran.” “iya, itu semua bener. Gue jadian kemaren tanggal 26 pas ulang tahunnya ci.” “hmmm... lo udah tau kalo arya nyusul jadian setelah lo jadian sama aka?” “apa..?” Aku tersentak kaget . tak sengaja ponselku ku banting ke arah tempat tidur, dan untungnya tidak ke lantai, ku ambil lagi dan kudengarkan apa yang sebenarnya terjadi. “halo sya?” “ya maaf, tadi hp gue jatoh. Gue kaget abisnya.” Jantungku tiba-tiba saja terasa sesak dan sakit entah kenapa , aku tak mengerti “jadi gini, hari ini arya jadian sya” Deeeg......serangan itu kembali ada “gak, gue gak tau? Emang dia hari ini jadian? Sama siapa? “sama anak sana yang katanya mirip sama lo, namanya evina.” “evina? Semoga dia bahagia.” Ku akhiri percakapan itu , walau singkat tapi menyakitkan bagiku. sungguh aku tak percaya, dan hari ini tanggal 27, ternyata hari ini jugalah arya jadian sama pacarnya evina. Aku tak mengerti apa maksudnya aray dengan semua ini. Ataukah evina yang katanya mirip denganku itu Cuma sebagai pelampiasannya saja?ataukah arya bener-benar menyayanginya? Entahlah. Kini semuanya tlah berakhir, meskipun aku tak mengerti jalan fikirannya arya. Tetapi aku yakin, dihati kecilnya arya meskipun sedikit saja, dia masih menyisihkan tempat untukku dihatinya dan menyimpan namaku dihati kecilnya.. begitupun aku, meskipun aku sudah mempunyai seorang kekasih , dan dialah yang membuatku menyadari. Menunggu itu tidak enak, apalagi orang yang kita tunggu gak pernah mencoba untuk meraih kita.sungguh menyakitkan. Mungkin arya sama sepertiku, menjalani semuanya tetapi tidak apa yang dia inginkan. *** Tiba-tiba saja ponselku bergetar ternyata tlp masuk . “halo?natasya?Sya, hari ini arya mau pulang.” “pulang?” ternyata sms itu berasal dari sari yang juga teman baikku “iya pulang, padahal dia baru sebentar di jakarta. Malah belom sempet kangen-kangenan kan sama lo? Eh tapi gak deh lo berdua kan udah sama-sama punya pacar. Tapi gue sih yakin pasti lo berdua masi saling ngarepin iya kan?” “gak usah nyindir gitu deh sar.” “haha.. iya maaf” sari tertawa pelan “oh iya , lo tlp gue Cuma mau ngasi tau kalo dia pulang?’’ “yaa.. gue sedih banget dia hars pulang dan katanya gak akan balik lagi.” Deeegggg........... tiba-tiba saja air mataku mulai jatuh perlahan setelah mendengar kabar itu dadaku terasa sesak dan saat ini sulit untuk bernafas “syaa?” panggilnya “natasya? Lo gak apa-apa kan? Diem aja?” ‘’eh iya sorry apa tadi yang lo bilang, gue gak denger.” “arya mau pindah dan tinggal di lampung selama 3 tahun. Dia gak akan balik lagi dan pastinya rumahnya yang disini mau di kontrakin.” “apa?” “iya bener, eh udah dulu yaa byee.. Sari mengakhiri percakapannya , aku tak mengerti dengan semua ini.. lagi-lagi arya pergi dan ninggalin aku untuk kedua kalinya, tapi ini berbeda dia gak akan kembali. Ini semua tak mungkin. Ku putar lagu pasto aku pasti kembali, dan lagu itu yang menjadi lagu kita berdua dulu. Teringat aku dan arya sering menyanyikan lagu itu berdua.. di pekarangan sekolah sambil memainkan gitar Reff : aku hanya pergi tuk sementara.. bukan tuk meninggalkanmu selamanya.. aku pasti kan kembali, pada dirimu.. tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali.. aku pasti kembali......... *** Pukul 06.00 pagi, Aku terbangun dari tidurku, aku tak bisa berhenti menangis tadi malam, mungkin sebabnya mataku sembab dan layu seperti ini. aku tak mengerti mengapa aku menangisinya. Aku tak mengerti apa yang ku tangisi. Cintanya? Ataukah karna arya yang ingin pergi? Entahlah..aku tak mengerti..Seharusnya aku seneng arya pergi dan gak akan kembali lagi, tapi apa nyatanya? Aku malah seperti ini, seharusnya aku sadar aku sudah mempunyai seseorang kekasih begitupun arya.... Aku juga tak mengerti perasaanku gelisah tadi malam, tadi malam aku juga melihat arya tapi aku , aku tak ingat dia ada di mimpiku? Atau dia datang tadi malam. Yang ku ingat dia datang memakai baju putih dan dia tersenyum padaku, dia memegang tanganku dan berbisik. Jangan sedih, karna arya akan selalu ada dihati kamu. Dan kamu selalu ada di hati arya.. mungkin arya gak akan pernah kembali. Dret..dret.. hp ku berdering, ternyata ada tlp dari eza aku pun cepat-cepat mengangkatnya.. “sya, udah bangun??’’ “ada apa?gue baru aja bangun.” “lo udah tau kan arya pergi?” “iya , gue udah tau dari sari dia yang ngasih tau gue kemaren malem.” “suara lo kenapa?” Mungkin suaraku begini adalah efek tangisanku tadi malam , aku tak bisa tidur.. hanya arya yang aku fikirkan tadi malam. “hah? Suara gue? Gpp, gue lagi sakit tenggorokan biasalah radang. “bohong, lo pasti abis nangis ya?” “enggak.” Aku memang berbohong sama eza, karna aku tak ingin kawatir. “ada apa tlp gue pagi-bagi begini? Tumben?’ “iya, gawat sya penting gawat. Arya barusan aja masuk rumah sakit.” “apaaa?” aku tersentak kaget dan mataku kini sudah tak mengantuk lagi “iya udeh lo cepetan mandi. Cepet nanti lo gue anter kerumah sakit gue jemput.” Aku segera mengakhiri tlp, aku bergegas untuk mandi. Dan setelah aku selesai mandi, dan siap untuk berangkat , tiba-tiba saja terdengar bunyi motor depan pagar rumahku, ku lihat dari jendela ternyata itu eza, aku cepat keluar dan pamit tidak sempet sarapan pagi “za, ceritain ke gue plis.” “udah cepet naik , nanti gue ceritaiin di jalan.” Aku segera naik dan meninggalkan rumah. Aku pergi dengan hati yang cemas, selama di perjalanan aku hanya diam dan diam. ‘’sya, jangan diem aja .” “jelas aja gue diem.” ‘‘ini adalah bukti kalo lo masih sayang banget sama arya, iya kan?” “gak. Gue Cuma khawatir” kataku ngeles “Khawatir? Kalo lo Cuma kawatir, gak akan lo mau pagi-pagi kaya gini disuru kerumah sakit buat liat keadaan arya, padahal lo sendiri udah punya cowok. Tapi lo sendiri malah ngawatirin arya di banding cowok lo” “jelasin ke gue kenapa arya?” Hening........ aku tak mengerti kenapa suasana menjadi hening.. keadaan pagi yang dingin ini menusuk tubuhku “eza?’’ panggilku “eza, arya kenapa?’’ panggilku sekali lagi cemas “dia... dia.. “ “dia? Dia kenapa zaa.” Eza tak juga menjawabnya, setelah setengah jam di perjalanan, tak terasa kita sudah sampai dirumah sakit. Setelah eza memarkirkan motornya, aku dan eza langsung pergi menuju ruang kamar tempat arya dirawat. Aku dan eza melihat teman-temanku sudah rame dan berkumpul di ruang kamar arya, aku tak mngerti mereka semua menangis sampai isek-isekan. Apa yang terjadi? Aku tak mengerti . tiba-tiba saja ditengah kerumunan mereka yang sedang menangis, aku melihat seseorang memakai baju putih keluar dari arah pintu kamar rumah sakit tempat arya dirawat. Aku diam dan tak menghampiri seseorang itu. Ku lihat eza sudah tidak ada disampingku. Aku seperti mengenalnya, wajahnya pucat, lesu, dan dia tersenyum kepadaku. Dia itu arya? Apa dia itu arya? Dia tersenyum padaku? Tapi aku heran mengapa mereka semua masih menangis? Sedangkan arya? Dia baru saja kluar dari arah pintu dan tersenyum padaku.... tiba-tiba saja saat aku ingin menghampiri seseorang itu, seseorang itu hilang? Hilaaaang????? Iya, tiba-tiba saja hilang. Aku tak mengerti kemana bayangan itu pergi. “natasyaaaa..... “ tiba-tiba ici menghampiriku dan memelukku “ada apa? kok lo nangis?” tanyaku heran, ici masih saja menangis di pelukanku “arya syaaa... arya.....gue gk percaya dengan semua ini, padahal waktu kemaren kita abis ngmpul bareng.. gue gsk percaya!” “arya kenapa? Dia baik-baik ajakan? Barusan gue liat dia keluar kamar dan dia senyum sama gue, tapi anehnya dia langsung pergi dan hilang gitu aja pas gue mau nyamperin dia.. yaa.. barusan .” kataku polos tak mengerti “apa? “ ici menatapku “iya seius gue gak boong tuh barusan dia kesana” aku menunjukkan ke arah bayangan itu pergi “arya itu udah gak ada natasya, dia pergi ninggalin kita semua.. bukan untuk pergi dan tinggal di lampung, tetapi dia pergi untuk selamanya.” “gue gak ngerti, jelas-jelas gue barusan liat dia.” “ikut gue,” di tariknya tanganku masuk ruang kamar arya “lihat,dia udah gak ada, gue gak sanggup dengan semua ini.” “aryaaaaa... aku menghampiri arya yang terbaring lemas dan kaku, juga pucat dan tangannya begitu dingin.” “arya, bilang ke gue kalo ini gak bener. Aryaaa buka mata lo, bilang kalo ini gak bener. Kenapa lo gak mau buka mata lo , aryaaa plis.” Aku tak bisa menahan tangis “arya, plissss arya gue mohon, jangan ninggalin natasya dengan cara seperti ini natasya gamau ditinggal arya, natasya sayang banget sama arya. Arya bilang, kalo ini bohong, tangan arya dingin banget, arya sakit? Arya kedinginan? Tadi arya baru aja senyum ke natasya aryaaa bangun.” Saat itu aku tak bisa menahan tangis, tangan arya saat itu dingin banget semua itu bisa ku rasakan. Tetapi dokter langsung membawanya, ku lihat terakhir kali arya tersenyum padaku, ini mimpi? Katakan ini mimpi padaku. “natasya?’’ seseorang menarik tanganku, entah itu siapa dia langsung memelukku “ikhlasin dia natasya, dia udah gak ada jangan menangis terus, ikhlasin dia.” Aku tak bisa menahan tangis, aku sekarang rapuh, aku tak bisa apa-apa dengan kenyataan pahit ini. batinku “ikhlasin dia natasya, ini semua demi kebaikannya.” Aku masih terhanyut dalam susana dan juga didalam pelukan seseorang itu, ketika aku membuka mata ternyata seseorang itu adalah aka, pacarku yang juga ada disana.. menyaksikan itu semua “ayok kita keluar, aka jelasin semuanya.” Teman-temanku masih saja menangis, dan juga ku lihat eza sepertinya dia juga sangat terpukul. Aku mengerti perasaan eza, dan juga teman-temanku semuanya. Ternyata, aka membawaku ke kursi taman belakang rumah sakit. “aka udah denger semuanya sayang.” “maafin natasya, maafin natasya.” Kataku pelan “gk usah minta maaf, justru aka yang minta maaf sama kamu. Mungkin kalo kamu denger ini semua kamu nantinya bakalan benci dan marah sama aka, pacar kamu.” “kenapa kamu ngomong gitu?” tanyaku tak mengerti “kamu tau? Kamu ingat 6 bulan yang lalu pas arya pergi ninggalin kamu tanpa pamit?” “iya aku ingat?” “dia itu pergi ninggalin kamu karna dia sakit, bukan karna dia sekolah di pesantren juga. Dia Cuma nyari alesan yang masuk akal.Selama itu dia pergi untuk berobat kesana-sini. Tapi itu semua gagal. Pengobatan itu sempat berhasil, tetapi tidak berlangsung lama.” Hening..... aka melanjutkan ceritanya “selama dia pergi untuk tinggal di lampung, dia bilang kalo dia pindah ke pesantren.. padahal tidak sayang.. dia pergi bersama orang tuanya untuk berobat. Dia punya penyakit jantung. Kemaren pas kamu main sama dia sama teman-teman kamu ,mungkin saat itu keadaan arya sudah pulih tetapi , arya drop dan harus pulang dan pindah ke lampung selama 3 tahun untuk menjalani pengobatan. Orang tuanya arya terpaksa pindah kesana, karna tidak mungkin bolak-balik dengan kondisi arya seperti itu lampung-jakarta itu lumayan jauh.” “selamaya 6 bulan, arya menitipkan kamu ke aku. Karna aku sahabat baik arya sejak kecil. Hanya aku yang tau tentang penyakitnya,selain keluarganya sel. Maafkan aku, natasya... seharusnya dari awal aku jujur sama kamu. Pas kita jadian tanggal 26 kemarin, arya mengetahui kabar itu. Awalnya aku gak enak sama dia, tapi aku bener-bener sayang dan tulus sama kamu itu semua aku lakuin untuk ngejagain kamu. Pas arya tau kita jadian, dia pesen sama aku , supaya kamu suatu saat nanti dia udah gak ada, kamu harus bisa ngikhlasin dia. Ini semua demi kebaikannya natasya.ini semua udah ada yang ngatur” “Tadi aku juga menemaninya sbelum ajal menjemputnya. Dia berpesan padaku sayang, katanya dia minta maaf sama kamu dan teman-teman kamu juga. Karna dia gak mau buat kamu sedih juga semuanya. Tadi aku juga udah cerita ke semua teman-teman kamu dan tadi aku suruh eza jemput kamu. Maafin aku terlambat ngasih tau kamu.” Tangisku semakin tak terkendali, aku tk bisa menahan semuanyaa.... ini semua telah berakhir, dan akupun kini harus membuka hatiku untuk orang lain “ aku gak marah sama kamu, aku juga ngerti kalo misalnya aku ada di posisi kamu saat itu. Aku ikhlasin , walaupun aku masih sakit dan sangat terpukul.” “ya, seharusnya kamu bersikap seperti itu sayang, itu semua udah tuhan yang atur. Kita sebagai umatnya hanya bisa sabar, ikhlas, dan menerima.” Tuhan... jika ini semua sudah menjadi jalan takdirku,aku ikhlas Tuhan... Tabahkan aku , berilah tempat yang nyaman disana buat Arya Tuhan... Sayangi dia, dan meskipun Arya sudah tidak ada di dunia ini. tapi aku masih tetap menyayanginya... sampai nanti ku menutup mata... SELESAI

Cinta Tak Harus Memiliki

Sunyi di sebuah malam, hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Seorang gadis dengan gaun tidur berwarna merah muda, tampak menatap ke luar jendela. Tatapannya menerawang jauh. Terbang bersama sejuta kenangan yang tak mungkin bisa ia lupakan. Barangkali inilah rasanya hidup seorang diri, tanpa seseorang yang berarti. Hujan diluar perlahan-lahan turun. Menimbulkan suara gemericik. Gadis itu rupanya teringat pada sebuah dongeng. Dongeng dari mamanya ketika dia masih berumur 6 tahun. Judul dongeng itu adalah “ Gadis sebatang kara”. Bahkan, sampai sekarang, suara mama ketika bercerita masih terngiang ditelinganya. Dan dongeng itu, kini benar-benar nyata dalam hidupnya. Dia sendiri yang memerankan tokoh utama dalam dongeng itu. Tenggelam dalam lautan kesendirian adalah gejolak jiwa yang kerap kali ia rasakan. Sebuah konflik batin yang harus ia telan sendiri. “ Kirana.. Diminum dulu obatnya, ayo keluar dari kamarmu.” Sebuah suara tampak terdengar dari luar kamar. Ya, nama gadis itu adalah Kirana. Tapi, dia tak menghiraukan panggilan itu. Panggilan Tante-nya yang menurut Kirana tak penting. Karena entah kenapa, semenjak mamanya meninggal dan papa menikah lagi, Kirana tak pernah menganggap ada orang lain dalam hidupnya. Ia hanya menganggap bahwa ia hidup sendiri dan tak ada orang didalamnya. Kalaupun ada, maka orang itu hanya figuran. Dan ia yang merupakan peran utamanya. Satu-satunya pemeran utama yang harus memainkan dinamika kehidupan ini. Kirana melangkah perlahan-lahan ke tepi ranjang. Ia duduk dan mematikan lampu. Seolah benar-benar larut dalam kesendiriannya. * * * Sinar matahari siang ini terasa menyengat, seorang pria tampak kerepotan membawa 2 buah kopor serta 1 tas ransel. Sesekali, ia menyeka keringat yang mengalir di dahi dan pelipisnya. “ Benar-benar melelahkan” batinnya dalam hati. Rumah yang ia tuju masih jauh. Setidaknya, ia masih harus menyusuri gang ini sekitar 5 sampai 10 menit lagi. Menyesal juga, tadi dia tidak memakai jasa tukang becak di mulut gang. Sesaat kemudian, langkah kakinya terhenti di sebuah rumah bercat biru tua dan di dinding rumah itu terdapat plang bertuliskan “ TERIMA KOST”. Dengan ragu, pria tadi mengetuk pintu. “ Permisi..” Seorang wanita paruh baya tampak membukakan pintu. “ Selamat siang, Bu..” Pria tadi tersenyum tipis. “ Selamat siang juga. Pasti kamu Dafian ya?” Pria tadi yang tak lain adalah Dafian, mengangguk. “ Silahkan masuk dan duduk dulu, Ibu mau ke dalam ambil minum, tampaknya kamu kelelahan.” Wanita tadi adalah Bu Tari, yang merupakan pemilik kost-an, ia beranjak dari hadapan Dafian untuk mengambilkan minum. Rumah ini tampak nyaman. Mungkin akan serupa dengan kost-annya yang terletak di belakang rumah. Desain rumah ini memang sederhana, menggunakan desain rumah minimalis walau tidak bertingkat. Dibandingkan dengan rumah lainnya yang terdapat di gang , rumah inilah yang paling bagus dan terawat. Ketika tadi Dafian membuka pagar rumah,ia langsung disambut dengan taman kecil yang ditanami aneka macam bunga. Ada air mancul kecil di tengah taman itu. “ Ini ibu bawakan orange jus, “ Kedatangan Bu Tari membuyarkan lamunan Dafian tentang rumah ini. “ Terimakasih Bu.. Jadi merepotkan” “ Tidak apa-apa kok. Ini kuncinya, nak Dafian. Semoga kamu nyaman disini.” Bu Tari menyodorkan kunci kamar kost. “ Mari Bu, Terimakasih..” Dafian berpamitan dan menuju kost-an barunya. * * * Sore ini , langit tampak cerah. Kirana duduk berkaca di depan cermin. Ia mengenakan busana muslim dan jilbab berwarna biru muda. Dia memasukkan Al-Quran ke dalam tas yang terletak di meja rias. “ Na, mau kemana? “tanya Tante Lastri, yang masih mengenakan seragam putih khas seorang dokter. “ Acara rohis.” jawab Kirana singkat dan langsung menuju keluar rumah. Tante Lastri memandang Kirana hingga bayangannya hilang di balik pintu rumah. Rona wajahnya menampakkan kecemasan yang luar biasa. Sudah lama Lastri kehilangan sosok Kirana yang dulu. Yang periang dan selalu bersikap manis padanya. Hanya satu kebiasaannya yang tak pernah berubah, yaitu mengikuti acara rutin rohis di Masjid dekat rumah. * * * Dafian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Jadwal kuliahnya memang benar-benar padat. Ia merasakan cacing-cacing di perutnya berdemo, menuntut diisi. Sejak kemarin dia tidak makan. Orang tuanya hanya akan membiayai full uang kuliahnya. Sedangkan biaya hidup, hanya ala kadarnya saja. Itulah yang membuat Dafian pindah kost ke kost-an yang lebih murah dan mengurangi makan di restaurant food court kesukaannya. Akhirnya, Dafian memilih untuk keluar. Mencari warung makan kecil-kecilan, yang penting perutnya kenyang dan dia dapat beraktivitas kembali. Ketika keluar kost-an, udara sore langsung menyergapnya. Meskipun disini lingkungannya sedikit kumuh, apalagi untuk seorang calon dokter sepertinya, tapi Dafian cukup nyaman. Orang-orang disekitar sini pun semuanya ramah-ramah. “ Nak Dafian mau kemana?” tanya Bu Tari ketika berpapasan dengan Dafian di mulut gang. “ Mau cari warung makanan bu.” jawab Dafian sambil tersenyum sopan. “ Oh begitu. Ehm, di sebrang sana, dekat masjid Al-Ikhlas, ada warteg yang murah tapi masakannya enak loh. Kamu bisa makan disana.” ujar Bu Tari sambil menunjuk sebuah warteg kecil di sebrang mulut gang. “ Wah, terimakasih ya,bu.” Dafian langsung menuju warteg yang dimaksud Bu Tari. Namun, ketika baru saja menyebrang, mata Dafian tertuju pada seorang wanita berjilbab biru muda yang baru saja keluar dari Masjid AL-Ikhlas. Dia terkesima melihat paras wanita itu. Aura kecantikannya begitu bersinar. Karenina kekasihnya saja, lewat. Padahal Karenina adalah seorang model yang sempat memenangkan beberapa audisi majalah terkenal dan kontes kecantikan yang diselenggerakan oleh beberapa produk iklan. “ Astaga, cewek itu cantik sekali.” Dafian menggeleng takjub. Ia ingin menghampiri wanita itu, tapi ragu ditambah tujuannya untuk mengisi perut belum terlaksana. “ Aku harus tahu nama cewek itu.” ucap Dafian mantap. * * * Malamnya, Dafian tak bisa tidur. Sosok wanita yang tadi dia lihat,kini bergantian melintas di benaknya dan membuatnya seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Dafian sampai tidak menyadari, bahwa ia telah memiliki kekasih. Kekasih yang sangat ia sayangi. Dafian menyayangi Karenina? Ya, itu adalah benar. Tapi, ketika Karenina belum menjadi model super sibuk seperti sekarang. Karenina yang ia kenal begitu ramah dan perhatian. Sementara sekarang? Dafian seperti dianggap angin lalu saja. “Drrtt..drrttt..” handphone Dafian bergetar. Tertera sebuah panggilan masuk dari Karenina. Dafian mengangkatnya. “ Halo” “ Ya, Kar?” “ Ketemuan? Sekarang?” “ Hah? Di depan kost-an? Tau darimana kost-an aku yang baru?” “Oke aku keluar.” Baru saja ia memikirkan Karenina, sekarang orangnya langsung telpon dan mengabari bahwa dia ada di depan kost-an. Dafian beranjak dan menghampiri Karenina. “ Ada apa Kar?” tanya Dafian dingin ketika melihat Karenina telah berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan pakaian yang amat terbuka. Wajahnya ber make-up tebal. Mungkin, dia baru pulang dari acara pemotretan. “ Tutupi badan kamu pakai ini” Dafian menyodorkan jacket yang dikenakannya. Jujur saja, ia tak suka dengan pemandangan ini. Seorang wanita harusnya menjaga kehormatannya bukan malah mempertontonkannya. “ Gak usah. Aku kesini mau bicara sama kamu,” Karenina menolak. “ Oke apa?” “ Besok, aku harus pergi ke Washington. Aku dapat kontrak pemotretan disana. Dan mungkin, aku akan lama. Aku sadar, selama ini aku tak perdulikan kamu lagi. Aku fikir, lebih baik kita menyudahi hubungan ini sampai disini saja. Aku doakan kamu agar sukses menggapai cita-cita kamu yang sebentar lagi akan tercapai. Maafkan aku..” Karenina tersenyum pahit. Sementara Dafian biasa saja. Ia sudah tak menyayangi Karenina layaknya dulu. “ Ya, terimakasih Karenina. Aku harap kamu dapat yang lebih baik dari aku.” Dafian menatap Karenina lekat-lekat. Cinta memang cepat merubah seseorang. Karenina memang jauh lebih cantik dari dulu. Wajah nya yang peranakan Indo- Jepang itu, terlihat lebih manis dengan polesan make-up. Tapi bukan ini yang Dafian mau. “ Aku pamit ya Daf.” “ Aku antar sampai depan gang. Supaya kamu tidak diganggu oleh preman-preman di sepanjang gang ini. Berbahaya untuk model cantik sepertimu apalagi pakaianmu amat terbuka.” Dafian tersenyum. Sementara Karenina amat tersentuh. Ternyata Dafian masih sama seperti dulu. * * * Hari ini adalah hari Minggu. Pukul satu siang. Dafian baru saja pulang dari gereja Imannuel yang terletak di pusat kota. Acara kebaktian yang rutin diadakan setiap hari Minggu itu membuat dia tidak bisa bermalas-malasan tidur di Minggu pagi. Dan sekarang, ia harus pergi ke rumah dosennya di kawasan komplek Cemara Hijau mengenai tugas praktek kuliahnya. Baru sampai mulut gang, dia melihat seorang wanita yang pernah dilihatnya di depan masjid kemarin. Matanya terbelalak kaget. Wanita itu sekarang sedang ada di toko bunga. “ Ya Tuhan. Aku harus tahu nama cewek itu.” Dafian berkata dalam hati. Dan ia menghampiri wanita itu. Namun, ketika akan menghampiri, wanita itu sudah keluar dari toko bunga, tapi satu dari beberapa tangkai bunga yang dibawanya ada yang terjatuh. Spontan Dafian memungutnya. “ Mbak tunggu..” Wanita tadi menoleh. “ Ini bunga punya mbak? Tadi jatuh disana.” Dafian kini benar-benar berhadapan dengan wanita yang belakangan ini selalu hadir dalam benaknya “ Terimakasih..” wanita itu kemudian melanjutkan langkahnya. “ Hai, tunggu .” “ Apalagi?” kata wanita itu angkat bicara. “ Boleh tahu nama kamu? “ Dafian tersenyum ramah. “ Kirana. “ lagi-lagi jawabannya singkat. “ Aku Dafian.” Kirana mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah lagi. Sementara Dafian senang tak terkira. Ini pertemuan pertama dengan wanita yang disukainya. Tapi, sejak kapan ia suka dengan wanita ber-jilbab? Wanita yang sudah jelas-jelas berbeda keyakinan dengannya. * * * Kirana meneguk teh yang baru saja dibuatnya. Ia teringat dengan kejadian tadi. Nama pria tadi adalah Dafian. Dan tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Padahal, belum pernah dia merasa sesenang ini jika bertemu dengan pria. Kejadian yang dialaminya tentang mencintai seorang pria pernah berakhir pahit dan itulah yang membuatnya enggan jatuh cinta kembali. Tapi, jika dengan pria tadi. Tampaknya ada daya tarik sendiri dari pria itu. Ahh,.. Kirana ingin bertemu kembali dengan Dafian. Diam-diam dia meraih buku diary bersampul mawar dari meja disamping ranjangnya. Dia mulai menuliskan curahan perasannya. Tentunya dengan rona wajah seseorang yang sedang jatuh cinta. Namun, senyumnya sirna ketika pandangannya mulai kabur dan ia merasakan sakit yang hebat pada kepalanya. Sakit itu terus menyerang dan Kirana tak mampu melawannya. * * * Ini kedua kalinya Dafian bertemu Kirana di toko bunga. Kebetulan, Dafian akan membeli seikat bunga untuk Sang Bunda yang akan berulang tahun besok. “ Hai Kirana..” sapa Dafian. Kirana menoleh dan tersenyum manis. “ Sedang apa kamu disini Daf? “ tanya Kirana heran “ Beli bunga lah, masa berenang.” jawab Dafian sambil menatap Kirana. Menikmati kecantikan natural dari wanita di hadapannya ini. Bagaimana tidak. Kirana memiliki mata yang indah dengan bulu mata tebal dan lentik. Kulitnya putih bersih dan hidungnya mancung sempurna. Sepertinya, Kirana memiliki garis keturunan orang Belanda. “ Oh, beli bunga untuk siapa? Pacar kamu ya Daf ?” Kirana tertawa kecil “ Pacar? Aku ga punya pacar Na. Aku beli bunga ini untuk Bunda. Besok dia ulang tahun. Eh, kamu suka mawar?” tanya Dafian ketika melihat bunga yang dipesan Kirana adalah mawar. Kemarin, waktu pertemuan pertama dengan Kirana, dia juga melihat jenis bunga yang sama. “ Iya suka sekali..” Kirana mengangguk pelan. “ Aku belikan untuk kamu, ya..” sebuah kalimat yang tidak Kirana duga, terluncur dari mulut Dafian. “ Wah,terimakasih ya Dafian. “ Kirana tersenyum lebar. Pria di depannya ini sangat baik.“ Sama-sama, lebih senang lagi kalau kamu mau menemani aku makan siang. “ tawar Dafian. Kirana tersenyum lagi dan mengangguk cepat. * * * “ Ehmm...jadi begitu ya sebab kamu memutuskan hubungan dengan kekasihmu itu?” tanya Kirana ketika Dafian menjelaskan mengapa ia melajang sekarang. Mereka saling bercerita tentang banyak hal. “ Ya, begitulah. Kamu tampak pendiam sekali Na, apalagi ketika pertama kita bertemu.” Dafian berkomentar. “ Aku kesepian. Aku hidup seorang diri. Tapi, ketika bertemu kamu, aku merasa punya seseorang yang baru. Aku bisa terbuka mengenai hidup aku setelah sekian lama aku menutup diri, Daf. Padahal, kita baru kenal.” “ Oh ya? Aku merasakan hal itu juga, Na. Aku merasa cocok denganmu loh. Padahal kita baru bertemu 2 kali.” ucap ucap Dafian jujur. Lama mereka saling diam “ Na, kamu cantik dan aku suka..” tidak sengaja Dafian mengatakan itu dan Kirana tersipu malu. “ Kita bisa lebih saling mengenal Daf. “ ucap Kirana “ Ya, kamu benar. Oh ya, aku ada kuliah jam 4 sore. Kita bisa bertemu kembali nanti. “ Dafian melirik arloji di tangannya dan jam menunjukkan pukul 15.15 “ Oke Pak Dokter. Sebaiknya kita shalat dulu yuk.” Kirana hendak beranjak. “ Na, maaf..” “ Ya, kenapa? “ “ Aku non muslim. “ Seketika raut wajah Kirana berubah. * * * 5 bulan telah berlalu semenjak pertemuannya dengan Kirana. Hubungan mereka masih baik. Dafian memang telah menyatakan cintanya pada Kirana, tapi Kirana tetap tidak bisa merespon karena keyakinan mereka berbeda. Apalagi, orang tua Dafian menentangnya keras ketika Dafian bercerita bahwa dia jatuh cinta pada seorang wanita muslim dan ingin meminangnya. Dafian masih ingat ketika ayahnya begitu marah ketika dia meminta ijin untuk memeluk agama Islam demi cintanya. Sepertinya, cinta yang kuat akan membuat Dafian benar-benar melaksanakan niatnya itu agar mendapatkan Kirana. Dia tahu Kirana tidak akan menjawab cintanya selama mereka masih berbeda keyakinan. Haram kata Kirana. Dan sekarang, yang terpenting adalah lulus kuliah, menjadi dokter sesungguhnya dan meminang Kirana. Tak peduli kata orang tuanya. Lagipula, sebenarnya dia sudah lama ingin mengetahui tentang Islam lebih dalam. Ketertarikannya itu bermula ketika Dafian duduk di bangku SMP. Dia melihat teman-temanya yang sebagian besar orang muslim, melaksanakan shalat di hari Jumat siang secara bersama-sama dan yang mengikutinya adalah laki-laki semua. Selain itu, dia suka memperhatikan guru agama Islam di SMP nya menerangkan tentang sejarah Islam, yang sedikit-sedikit bisa dia mengerti. Dia juga suka mendengar orang yang kata salah satu temannya, sedang mengaji. Ketika SMP pun, dia pernah tertarik dengan salah satu teman wanitanya yang memakai jilbab. Sangat anggun menurutnya. Karena, jujur saja Dafian tidak suka wanita yang tidak mejaga kehormatannya seperti memakai rok pendek diatas lutut. Padahal, sekolah sudah melarangnya. “ Selamat siang Dafian.” sebuah suara membuat lamunan Dafian buyar. “ Siang bu. “ Dafian tersenyum pada dosennya itu, Bu Lastri. “ Melamun saja, Daf.” goda Bu Lastri. “ Eh, ehmm engga bu. Oh ya, bagaimana dengan praktek bedahnya?” “ Kamu bisa mulai minggu depan. Setelah itu, persiapan untuk ujian. Ibu yakin kamu pasti lulus dan bisa mempertanggungjawabkan gelar dokter mu.” ucap Bu Lastri. “ Terimakasih, bu. “ Bu Lastri mengangguk dan tersenyum. “ Eh, bu. Amlop ini punya ibu?” tanya Dafian ketika mengambil amplop besar berwarna putih yang jatuh dekat sepatunya. “ Oh, ya ini hasil check-up pasien saya, Daf.” Bu Lastri mengambil amplop itu dari tangan Dafian “ Emang, dia sakit apa?” “ Dia divonis kanker otak stadium akhir Daf. Dan kanker nya itu telah meluas. Kamu tau kan artinya apa? Harapan untuk hidupnya kecil. Mungkin saya sendiri tidak bisa mengatakan berapa lama dia akan bertahan. Yang pasti, hanya Tuhan yang tahu. Saya sangat sedih melihatnya, apalagi dia sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Dia sangat lemah dan tidak berdaya ketika diberi paint killer dengan dosis yang tinggi. Tapi, bila tidak diberi itu, maka dia akan sangat menderita. Lama dia hidup mungkin hanya ditentukan oleh bagaimana dia mempunyai semangat tinggi untuk hidup. Bila kankernya masih ada di stadium 2, kami para dokter bisa melakukan chemoterapi dan pengambilan jaringan-jaringan yang terkena kanker. Tapi, semua terlambat. Dia tidak pernah peduli dengan rasa sakit di kepalanya sehingga sekarang, kankernya itu sudah meluas. “ “ Semoga Tuhan memberikan sebuah keajaiban ya,Bu..” ucap Dafian. “ Ya, Daf. Saya berharap seperti itu. Saya permisi.” Dafian membiarkan Bu Lastri pamit dan entah kenapa, dia teringat Kirana. * * * Malam di sebuah restaurant. Dafian menatap Kirana yang malam itu sengaja ia ajak ke tempat makan faforitnya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting. Tapi, tak seperti biasanya, wajah Kirana terlihat pucat. “ Na, kamu sakit?” tanya Dafian. Kirana tersenyum dan menggeleng pelan. “ 2 minggu lagi, aku wisuda kuliah dan itu artinya, aku benar-benar menjadi seorang dokter,Na.” Ucap Dafian senang. Namun, Kirana hanya tersenyum menanggapinya. “ Minggu-minggu ini kita tak bisa banyak bertemu. Aku banyak kegiatan di kampus. Tapi, aku berjanji saat telah diwisuda, aku akan datang membawa ijazah dokterku dan langsung melamarmu.” Kirana tersentak kaget. Wajahnya yang pucat, sekarang berubah menjadi lebih pucat seperti orang yang meninggal. “ Kamu serius?” tanya Kirana. “ Aku serius. Apakah kamu tidak mau? “ “ Daf, kita kan...” “ Aku akan menjadi mualaff untukmu Na. “ tegas Dafian memotong pembicaraan Kirana. “ Tapi, Daf? Keluarga kamu? Papamu seorang whorsip leader di gereja-gereja besar. Tentu saja keyakinannya begitu kuat dan beliau tidak akan merelakan anaknya begitu saja memeluk agama lain.” ujar Kirana, dia mengalihkan pandangannya keluar. Menatap kendaraan yang lalu lalang. “ Aku sangat mencintaimu. Tidak ada salahnya bila aku menentukan jalanku sendiri. Aku akan menjadi mualaf untukmu,Na” Dafian mengulang pembicaraannya. Kirana termenung, dia menatap kembali wajah pria yang sebenarnya sangat dia cintai. Sinar ketulusan terpancar dari wajah Dafian. “ Kamu tidak usah khawatir. Aku tulus dan sungguh-sungguh. Nanti, ajari aku shalat dan mengaji ya. Pokoknya semua tentang Islam.” ucap Dafian. Matanya menatap Kirana lembut. Sementara Kirana, merogoh tasnya dan mengambil sebuah buku. “ Ini ada buku tuntunan shalat. Lengkap. Semua jenis shalat ada disini. Tapi, yang paling utama, kamu harus pelajari shalat fardu. “ Kirana memberikan buku yang diambil dari tasnya kepada Dafian. “Terimakasih, Na. Aku pasti datang untukmu.” * * * Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi Dafian. Dia telah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sebagai seorang dokter. 1 hari sebelumnya, dia telah resmi menjadi seorang pria muslim. Melakukan sunat, dan mengucap kalimat syahadat di depan seorang ustadz. Disaksikan juga oleh beberapa tokoh agama di daerah ini. Bu Tari, ibu kost-nya pun datang menjadi saksi. Sementara orangtuanya, tidak tahu mengenai hal ini. Rencananya, hari ini Dafian akan datang ke rumah Kirana. Dia ingin menjalankan niat tulusnya untuk meminang Kirana. Setidaknya, dia bisa bicara pada orang terdekat Kirana. Kirana pernah bicara, bahwa dia tinggal bersama tante-nya di Komplek Cemara Hijau. Tapi, nomor handphone Kirana tidak dapat dihubungi. Sejak 2 minggu yang lalu. Tadinya Dafian fikir, mungkin handphone Kirana lowbatt, dan dia tak penah mencoba menghubungi Kirana lagi karena sibuk. Dan sekarang, ketika dihubungi lagi pun, jawaban dari operatornya sama. Tidak dapat dihubungi. Dafian menghela nafas panjang, dan mulai keluar dari kost-an nya. Menyusuri gang, dan masuk ke Komplek Cemara Hijau. Dia masih mengenggam ijazah dokternya. Tadinya, dia berharap akan bertemu dengan Bu Lastri di acara wisuda, tapi dia tidak ada. Padahal, Dafian ingin mengucapkan terimakasih pada dosennya itu yang telah banyak membantu dalam proses kuliahnya. Komplek Cemara Hijau Blok F no.9, sepertinya Dafian mengenal alamat itu. Sekarang, dia telah sampai. Eh, tunggu dulu. Ini kan rumahnya Bu Lastri, dan rumah ini? Rumah Kirana pula. Tapi kok ada bendera kuning dan banyak orang berpakaian hitam di dalam? Berbagai pertanyaan berkecamuk di fikiran Dafian.Hatinya cemas luar biasa. Dia mendekati rumah itu. “ Permisi..” ucap Dafian. “ Dafian..” Bu Lastri muncul dari dalam. Dia kaget melihat Dafian telah berdiri di halaman rumahnya. “ Ibu ini rumah Kirana?” tanya Dafian pelan. “ Kamu mengenal Kirana?” tanya bu Lastri kaget. “ Dia calon istriku, Bu..” Seketika Bu Lastri menangis. Menangis menatap Dafian. “ Jadi, kamu orang yang Kirana ceritakan? Kamu harus melihat dia untuk yang terakhir kalinya.” Bu Lastri meminta Dafian mengikutinya. Dafian tak mengerti apa yang terjadi. Dia terhenti di hadapan seorang jenazah. “ Katakan bahwa dia bukan Kirana Bu.” Dafian berlutut lemas. Ijazah yang sedari tadi dipegangnya, jatuh terlepas dari genggamannya. Dia tak mampu berkata apa-apa. Lemas,dan pikirannya tak bisa mencerna apa yang saat ini terjadi. “ Kirana adalah orang yang saya ceritakan tempo hari. Dia mengidap kanker otak. Selama 2 minggu dia koma di rumah sakit. Malam itu sebelum dia masuk rumah sakit, Kirana bilang bahwa dia akan bertemu dengan orang yang dicintainya. Padahal, 1 hari sebelumnya dia sempat pingsan dan kondisinya saat itu sedang lemah. Sampai pada saat setelah pertemuannya dengan orang itu, yang ternyata kamu, Kirana pingsan kembali dan kondisinya langsung memburuk. Dia tidak punya harapan untuk hidup. Dia juga tak pernah bercerita bahwa pria yang berhasil membuatnya bahagia itu adalah kamu. Saya tidak menyangka “ jelas Bu Lastri panjang lebar. Dia menatap jenazah Kirana dengan tatapan kosong. Dafian tak percaya bahwa ini adalah nyata. Kirana seperti masih ada. Masih ada di sampingnya. Dan akan ia nikahi sekarang. Tapi kenapa secepat ini? Mengapa saat Dafian telah menemukan sosok wanita yang benar-benar tepat, wanita itu pergi? Meninggalkannya sendirian. Hati Dafian menjerit tak rela. “ Daf, jenazahnya akan di shalatkan. Kamu mau menunggu di luar?” tanya Bu Lastri. “ Saya sudah muslim sekarang, Bu. Saya akan ikut menyolatkan Kirana.” ucap Dafian. Ini pertama kalinya dia menyolatkan jenazah. Dan Dafian bisa melakukannya. Dia belajar dari buku tuntunan shalat yang diberikan oleh Kirana saat terakhir mereka bertemu. “ Na, aku akan menunjukkan padamu, bahwa aku sekarang bisa shalat. Dan aku shalat untukmu.” Gumam Dafian dalam hati. Tanpa sadar, air matanya mengalir perlahan. * * * Langit kelam menghiasi acara pemakaman Kirana sore ini. Bau tanah makam menusuk hidung. Dafian duduk di samping pusaran Kirana. Di batu nisan itu tertulis nama “Kirana Aurelia Dreana”. Nama seorang wanita yang sangat Dafian cintai. Yang Dafian impikan, yang Dafian harap bisa menjadi Ibu dari anak-anaknya. Yang akan ada di samping Dafian sampai kapanpun. Tapi sekarang, semua angan-angan itu hancur begitu saja. Kirana telah pergi meninggalkannya. Rupanya Dafian harus meyakini dan menguatkan hati, bahwa menapaki hari tanpa sosok Kirana, adalah hal yang nyata. Yang akan dihadapinya mulai detik ini. Buliran air mata turun membasahi pipi Dafian. Ia memang laki-laki yang pantang menangis. Tapi kali ini, ia seolah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Ya, cinta. Cinta yang paling berharga itu harus hilang begitu saja. Sisi terindah dalam hidupnya adalah pertemuan dengan Kirana. “ Daf.. ini ada sesuatu dari Kirana. Dia menitipkan ini sesaat sebelum dia pergi.” Ucap Bu Lastri sambil menyerahkan buku diary bersampul mawar merah. “ Terimakasih, Bu..” ucap Dafian. Bu Lastri lalu pulang, meninggalkan Dafian sendiri. Dafian membuka lembaran pertama buku diary Kirana, isinya tentang perasaan dia ketika mamanya meninggal dan Papanya menikah lagi ditambah dengan kisah penyakitnya, begitu seterusnya sampai halaman 8. Dari halaman 9 sampai 14, tentang perasaan Kirana pada Dafian serta keraguannya untuk menerima cinta Dafian karena mereka berbeda keyakinan, dan dari halaman 15 sampai 17 tentang penyakitnya yang semakin parah, di halaman 18 tentang pinangan Dafian dan di halaman terakhir ada sebuah catatan untuk Dafian. Dafian juga melihat sebuah bunga mawar yang telah layu, pemberiannya dulu, ditempel di salah satu lembaran dalam buku diary itu. Untuk , Dafian.. Dafian,aku menulis catatan ini, karena aku takut tak bisa bertemu kamu lagi. Aku yakin, sekarang kamu sudah menjadi pria muslim kan? Alhamdulilah. Aku senang sekali. Karena aku berharap aku bisa seterusnya denganmu Daf, tanpa perbedaan diantara kita. Daf.. Aku dan kamu bertemu dalam satu kisah percintaan umat manusia. Dimana di dalamnya, kita bersama-sama merajut benang kasih, meniti indahnya jembatan cinta. Tapi, kini aku tak berdaya. Aku hanya berharap, Allah memberikanku sisa hidup untuk melihatmu sebagai pria muslim. Melihatmu sebagai seorang dokter walau hanya sekejap. Daf.. Maaf jika nyatanya aku harus pergi meninggalkanmu. Jika aku tak bisa menepati janji akan menunggumu untuk datang melamarku. Tapi aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku sangat menyayangimu. Kamu bisa membuat aku bahagia kembali setelah sebelumnya aku selalu merasa sendiri. Kamu bisa membuat aku membuka diri setelah sebelumnya aku menutup diri karena kisah keluargaku yang hancur berantakan. Daf.. Jika aku telah tiada, jangan lupakan aku ya, jangan lupakan kisah kita. Jaga dirimu baik-baik dan aku selalu menyayangi kamu, mendoakan kamu agar kamu selalu dalam lindungan Allah. Satu lagi, kamu harus memohon maaf pada orang tua yang telah membiayai kamu sampai kamu seperti sekarang. Mohon maaflah karena kamu telah memeluk agama Islam tanpa persetujuan mereka. Dafian, jagalah selalu ibadahmu. Ingatlah bahwa aku sebenarnya tak pernah meninggalkanmu. Meski ragaku telah tiada. Namun, cintaku selalu dihatimu.. Kirana. Dafian menutup buku diary Kirana. Kertas berisi catatan Kirana kini basah oleh air mata. Dia tidak kuat menghadapi kenyataan ini. “ Daf..” seseorang memegang bahu Dafian dari belakang. Dafian menoleh, “ Karenina?? Kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Dafian kaget. “ Kirana adalah sahabatku semasa SMP. Dan aku baru tau semua tentang kamu dan Kirana dari Tante Lastri. Sabar ya,” ucap Karenina. Dia juga duduk di samping pusaran Kirana. Sementara Dafian tak bisa berkata-kata. Kepalanya menengadah menatap langit yang gelap sekali. burung camar beterbangan kesana kemari. Hujan mulai turun. “ Daf, hujan nih. Ayo kita pulang. Biarlah Kirana pergi. Dia pasti tenang di alam sana.” Karenina membuka payungnya dan membopong Dafian berdiri. Lalu, dia memayungi Dafian yang terlihat masih sedih. Sekali lagi Dafian memandang pusaran Kirana sebelum akhirnya pulang. “ Kirana, biarkanlah camar ini terbang, beserta sejuta rinduku padamu. Kamu selalu di hatiku untuk selamanya, cinta tak harus memiliki..” Dafian berkata dalam hati .. * * *

Pencuri Hati

Seperti biasa, Renia sibuk mempersiapkan roti-roti yang akan dipajang di etalase coffeshop tempat ia bekerja. Hampir tiga bulan lamanya Renia bekerja disana dan selama itu pula ia dipercaya oleh Miss farah, si pemilik cafe untuk menghandlenya. Miss Farah itu gelar mereka pada si pemilik cafe, umurnya baru menginjak 24 tahun dan wajahnya yang ayu, sangat memikat. Hari ini miss Farah mau menjamu teman-teman lamanya di cafe dan hampir semua karyawan masuk dan sibuk dari jam enam pagi tadi. sebentar lagi tamu-tamu Miss Farah datang, Renia segera memberi instruksi pada teman-temannya untuk segera bersiap-siap. Tepat pukul sembilan. Semua tamu undangan datang. Renia langsung memberikan instruksi pada sebagian rekan-rekannya untuk stand by berdiri di tempat yang telah ditentukan tadi. Renia sendiri berdiri tepat di depan pintu. Tampak Miss Farah datang dengan Jazz merahnya mengenakan setelan modis ciri khasnya dengan dandanan minimalis sangat memikat. “Kerja yang bagus” ujar Miss Farah setengah berbisik pada Renia. Renia membalas dengan senyuman menarik. “Terima kasih, Miss” balasnya. “Oh ya, nanti ada tamu spesial yang datang, tolong kamu layani dia dengan baik. karena dia begitu spesial bagi saya” ucap Miss Farah merona. “Baiklah, Miss” jawab Renia sekenanya. Tapi Renia bisa menebak kalau tamu spesial ini pasti laki-laki yang berhasil memikat Miss Farah yang begitu selektif dalam memilih pasangan. Sebuah Audi melesat berhenti tepat di depan pintu cafe, sang pemilik turun dengan wibawanya, mengenakan setelan kemeja biru bergaris halus sangat pas dengan badannya yang atletis dan paras wajah yang sangat memikat. Ketika kakinya melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Renia tampak kaget karena tamu itu membuka pintu sendiri, ia takut kena marah sama Miss Farah, langsung gelagapan dan menuju pintu masuk namun sebuah insiden menimpanya. Renia selip dan bisa dibayangkan betapa sakitnya jika pantatnya mendarat di lantai. Entah sambutan darimana, Renia merasakan sebuah dekapan membantunya. Jantung Renia seakan berpacu dibuatnya. “Berhati-hatilah” ucap suara berat itu menyentakkan kesadaran Renia. Dengan malu, renia berdiri sempurna sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya. “Maafkan saya, pak” ucapnya kikuk. “Tidak apa-apa” ucap laki-laki itu sembari tersenyum. “Kamu tidak apa-apa Renia” tanya Miss Farah yang telah berdiri tepat di samping laki-laki yang menolong Renia. “Tidak apa-apa, Miss” jawab Renia mmasih tertunduk. “Ok, yuk Kevin, aku mau ngajakin kamu gabung dengan yang lain” ajak Miss Farah sambil mengapit pada lengan Kevin, nama laki-laki itu. kevin menganggukkan kepalanya dan menyamakan langkah dengan Farah. — “Sorry ya, Far, gue rusak acara lo kemarin” ucap Renia bersalah. “Udah, ngapain lo sungkan gitu. Semua baik-baik kok. Kevin sudah menolong lo” ujar Farah meyakinkan. Farah dan Renia adalah teman lama yang dipertemukan kembali di saat Renia mengantar lamaran di cafe milik Farah. Farah langsung menerima Renia dan menjadikan sahabatnya itu sebagai orang kepercayaan di cafe. “Sepertinya tamu yang spesial itu dia” goda Renia. Pipi Farah merona seketika. “Apaan sih, Re. Dia itu teman” ujar Farah menyangkal. “Oh ya” ujar Renia tidak percaya. “Sudah ah, gue mau pulang. Hari ini lo tutup sendiri yah” ucap Farah menyudahi. “Ya Miss Farah” goda Renia, karena rona merah di pipi Farah belum hilang. Farah melemparkan senyuman khasnya pada Renia dan langsung memutar badannya menuju parkiran. Sepuluh menit lagi cafe tutup, Renia sengaja menyuruh karyawan Yang lainnya segera tutup karena malam ini, Renia ingin bereksperimen sebentar di dapur cafe. Tadi pagi ia sempat browsing resep terbaru dan ingin mempraktikkannya. “Kita duluan Re” ucap rekan-rekannya pamit. “Bye” balas Renia dan menutup pintu cafe. Belum sempurna langkahnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu cafe. Pasti pengunjung ngidam, pikirnya usil. Renia segera membuka pintu cafe dan mendapati laki-laki kemarin yang menolongnya. Ada apa laki-laki itu datang kesini, apakah dia mencari Farah. sebelum memutuskan untuk berbicara laki-laki itu tersenyum padanya. “Boleh saya masuk” tanya Kevin polos. “Oh, silahkan” jawab Renia mempersilahkan. Kevin langsung masuk dan mengambil tempat duduk di dekat counter kue. “Kamu mau mencari Miss Farah?” tebak Renia ragu. “Tidak juga, tadi kebetulan lewat. Jadi mampir gitu” ujar Kevin santai sambil mengamati suasana cafe yang terlihat sepi. “Kenapa sepi?” lanjutnya. Renia menarik napas, sedikit kesal namun bersikap dingin bukan lah tipenya. “sudah jam sembilan, cafe sudah tutup pak” ucap Renia santai sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Owh, jadi aku pengunjung ilegal yah” goda Kevin tersenyum, sedikit merasa bersalah. “Tidak masalah pak”. “Jangan panggil bapak, saya belum setua itu. Panggil Kevin” ucap Kevin santai. “Baiklah” ucap Renia ragu. Pertemanan antar Renia dan Kevin pun di mulai. Semenjak percakapan malam itu, Kevin sering berkunjung di saat semua karyawan telah pulang dan terkadang saat breakfast Kevin suka menyempatkan diri datang ke cafe untuk sekedar santap roti. Malam ini, Kevin sengaja datang lima menit sebelum tutup rencanya ia mau mengajak Renia jalan-jalan sebentar, entah kenapa semenjak pertama kali bertemu ia tertarik dengan gadis itu. “Sori, Kevin. Malam ini rencanya aku mau bikin resep baru di dapur. Lain kali aja yah” ucap Renia tidak enak hati. “Tidak masalah, mmm.. kalau begitu aku bantu kamu bikin resep terbaru itu” ucap Kevin menyodorkan diri. Setelah berpikir sejenak, Renia mengiyakan tawaran Kevin. tanpa menunggu waktu mereka segera menuju dapur. Renia telah mempersiapkan bahan-bahan yang akan dipraktekkannya tadi. Kevin tidak tahu harus memulai darimana tapi dengan pasti ia mengamati gerakan lincah Renia dalam mengolah tepung dan beberapa bahan yang lain yang Kevin tidak tahu. Renia yang sibuk mengaduk bahan, teringat Kevin yang dicuekinnya. “Ayo sini, jangan bengong disana, tapi mau bantuin” ucap Renia tersenyum. Dengan pasti Kevin melangkah ke arah Renia dan berdiri tepat di samping Renia. “Aku tidak terlalu mengerti tentang bahan-bahan kue” ujar kevin polos sambil mengamati bahan-bahan kue yang tertangkap oleh pandanggannya. “Kalau memakannya, ngerti kan?” goda Renia. Gelak tawa Kevin pecah dibuatnya. Renia ikutan tertawa dan sesekali fokus sama adonannya. “Kalau ini apa namanya” tunjuk Kevin pada sebuah kotak yang terletak dengan tepung gula. Renia mengarahkan pandangannya pada tunjuk Kevin. ” Itu soda kue ” jawabnya. “Kalau itu”. “Vanilli bubuk” “Terus ini” tanya Kevin sekali lagi sambil mengarahkan tunjuknya pada pipi Renia. Ketika memalingkan muka, tepat sebuah colekan coklat lengket di pipinya. “Kevin” ujar Renia kesal, tidak terima Renia membalasnya. Terjadilah adegan lumuran coklat di pipi masing-masing. Kevin yang sudah menggenggam tepung bersiap-siap melemparnya ke arah Renia. Renia yang mengetahuinya sigap menghindar. Aksi kejar-kejaran tak terhindar. Langkah Kevin semakin mendekat, Renia terpojok di dekat pintu dapur. ketika langkah Kevin semakin mendekat, Renia segera melesat tapi sayang lantai di dekatnya licin. Kevin sigap Menyambutnya namun sayang mereka sama-sama terjatuh dan Renia tepat berada di atas tubuh Kevin. Pandangan mereka bersirobok. Debaran jantung yang tak beraturan tak dapat mereka hindari satu sama lain. Renia tak bisa menahan tawanya karena melihat wajah Kevin yang berlepotan tepung dan coklat. Kevin jadi terpancing tawanya. Sesaat kemudian, mereka terdiam. Renia sadar posisi ini tidak menguntungkan bagi mereka berdua. Renia segera bangkit dari tubuh Kevin dan pergelangan tangan Kevin tepat di pinggangnya, menahan. Kevin menatap lekat-lekat wajah Renia dan sedikit menghembuskan napas. “I LOVE YOU” bisik Kevin mantap. Renia terpaku mendengar ucapan dari Kevin sebentar, ia merasa pendengarannya bermasalah. “Aku sayang kamu” ulangnya lagi. Sebuah senyuman mengembang di pipi Renia. Kevin langsung menangkap arti senyuman itu dan segera memeluk erat tubuh Renia. Perasaannya terbalas. Renia berhasil mencuri hatinya, semenjak pertemuan pertama itu bayangan wajah Renia selalu melekat di pikirannya. Dan sekarang si pencuri hatinya benar-benar telah dimilikinya. “Apa-apaan kalian” ucap sebuah suara, memebuat Renia dan Kevin gelagapan. Suara seseorang yang sangat mereka kenal. — Farah terkejut karena mendapati Kevin dan Renia dalam posisi yang tidak ingin dilihatnya. “Kalian keterlaluan” ucap Farah setengah berteriak dan perlahan namun pasti segera keluar meninggalkan cafenya. Renia dan Kevin segera berdiri memperbaiki posisinya. “Bagaimana ini, Farah pasti marah” ucap Renia bersalah. “Tenang, Farah perlu penjelasan dari kita” ucap Kevin menenangkan. Setelah membersihkan diri secara kilat Renia dan Kevin segera menyusul Farah yang setengah berlari menuju parkiran. “Farah, tunggu” teriak Kevin berharap Farah mau berhenti, namun percuma Farah semakin mempercepat larinya. kevin segera mempercepat langkahnya. Kevin berhasil mencegat Farah untuk tidak masuk ke dalam mobil. “Ada apa lagi, sudah cukup kalian menyakitiku” ucap Farah marah. “Menyakiti?” tanya Kevin bingung. Renia berhasil menyusul keduanya di parkiran dan mendapati Farah yang begitu marah padanya. “Apa kamu tidak bisa membaca perasaanku, Kevin” ucap Farah menahan perih. kevin terkejut mendengar penuturan Farah, selama ini dia menganggap Farah layaknya seorang saudara dan ternyata perhatiaannya ini disalah artikan oleh Farah. “Farah, aku…”. “Sudahlah Kevin, aku cukup sadar. Dan untuk kamu, Re. Selamat kamu berhasil merebut hatinya dari ku” ujar Farah penuh tekanan. Mendengar ucapan Farah, hati Renia terasa tersayat di buatnya, sakit. “Far, dengerin gue…”. “Percuma, semua sudah jelas”. “Farah, dengar. Ini semua bukan salah Renia tapi aku yang memulai perasaan ini. Aku mohon pengertian kamu. Sebuah perasaan tidak bisa dipermainkan. Kalau aku sempat jadian dengan kamu tanpa ada perasaan sayang, apa kamu mau?” ujar Kevin memberikan pengertian dan segera menarik Farah ke dalam pelukannya sembari mengarahkan pandanngannya pada Renia, gadis hatinya. Farah tidak kuasa menahan tangisnya, dekapan Kevin membuatnya tenang. “Maafkan aku, Far. aku sayang kamu tapi sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Aku cinta Renia. Aku mohon pengertian kamu” ujar Kevin lembut sembari mengelus rambut Farah. Entah kenapa mendengar penjelasan Kevin, membuat Farah bisa menerima semuanya. Sahabatnya saling mencintai, mungkin itu lebih baik, pikirnya. “Maafin aku ya” ujar Farah sembari memeluk Renia. “Aku juga, nggak jujur sama kamu” balas Renia. Farah melepas pelukan Renia dan segera masuk ke dalam mobilnya, menjauh dari mereka akan membuat perasaan sedikit tenang untuk sementara waktu. Kevin dan Renia masih terdiam di parkiran. “Dia tidak akan apa-apa” ucap Kevin menenangkan dan langsung mendekap Renia dalam pelukannya dan mengecup gadis pencuri hatinya. “I LOVE YOU”. == THE END ==

Akhir Sebuah Penantian

Gelisah dalam penantian, resah yang mengganggu jiwa, dan khawatir yang menggerogoti hati, kini telah diusir pergi oleh pelukan cowok berperawakan tinggi, putih, dengan rambut tertata rapi dan hidung mancung serta kemeja putih dan jas warna hitam yang ia kenakan bak pangeran harry yang gagah dan juga menawan. Larut dalam kebahagiaan tak menyadarkan ku bahwa matahari mulai bersembunyi di ufuk barat, pancaran cahayanya mulai tak pijar dan redup. Sekali lagi aku bertanya kepada Abel yang saat ini memelukku, “oh, benarkah ini semua… Atau ini hanya ilusi ku saja” Perlahan cowok tampan bernama Abel itu melepaskan pulukannya dan kemudian menatapku dalam dalam, pancaran sinar matanya begitu kuat membuat siapa saja yang ditatapnya akan merasakan hawa kedamaian. Emtah malaikat mana yang berdiam diri di mata Abel, yang jelas sorot matanya begitu indah, bahkan lebih indah dari beribu mata bidadari bidadari surga. Betapa beruntungnya aku.. Meluluhkan hatinya yang keras. Dengan lembut Abel menggenggam kedua tanganku “Gita sayang, ilusimu itu sudah jadi kenyataan sekarang, lihatlah cincin yang singgah di masing masing jari manis kita, serta 2 buah kitab kecil satu untukku dan satu lagi untukmu, lihat juga orang orang di sekeliling kita, mereka semua di sini untuk kita untuk menghadiri sebuah ritual suci yang dipimpin oleh seorang penghulu, satu lagi Gita ku sayang pesta kecil ini telah kita rancang dengan susah payah dengan segala macam rintangan”. Lalu Abel mengembangkan senyum menawannya yang begitu manis namun penuh harapan. Air mataku tak tertahankan ketika semua orang bersorak sorai mengiringi alunan kebahagiaan yang baru beberapa menit yang lalu disahkan oleh penghulu. Air mata bercampur haru membentuk sebuah harapan akan keharmonisan rumah tanggaku dengan pangeran pujaan ku Abel. Dan untuk kesekian kalinya Abel memelukku kembali.