Saturday, October 25, 2014

AproGear Wristband Smartwatch

AproGear Wristband Smartwatch: Keep track of your health and fitness progress with the AproGear Smartwatch. The smart wrist-mounted tracker features a built in pedometer, calorie counter and sleep tracker to help quantify and measure your daily activity. Sync the smartwatch with your smartphone and track your fitness history with the custom built app. The AproGear Smartwatch is a high-tech companion to aid your journey to a healthier life.



Find this cool stuff here: http://zocko.it/LEtZT

Saturday, September 20, 2014

Aku Masih Setia Untukmu

Lukisan cintamu sangat indah menghiasi hatiku Bagaikan embun yang teduhkanku di pagi hari Sangat jelas terasa terangmu mengikuti jejak langkahku Betapa ingin ku jadikan kau sebagai pendamping hidupku Jangan pernah ragukan aku ketika jarak memisahkan kita Karena aku tau apa yang harus aku lakukan ketika ragaku jauh darimu Setia bukan hal yang sulit untukku Karena aku tlah menjadikannya sebagai hal yang terpenting dalam hubungan kita Bingkaian kata cinta bukan hanya gombal semata Karena semua tentangmu adalah keindahan bagiku Ingin ku persembahkan bintang malam untuk temanimu dikala sepi menghampirimu Karena aku tak bisa selalu ada untuk temanimu Rindu adalah kata2 yang selalu ku ucapkan Hingga aku mampu merangkai kata ini untukmu Semoga kau mendengar segala yang ingin ku samapaikan Bahwa aku mencintaimu dari dulu,sekarang, dan selamanya..

Wednesday, September 17, 2014

Alasan Cinta

Sudah 14 hari kau koma dan hanya diam kaku terbaring di ranjang kebesaran rumah sakit ini, tanpa ada sedikit pun obrolan walau aku selalu ada di samping kirimu. Air mata ini tak berhenti menetes, pertanyaan yang ku utarakan tak pernah kau gubris. Aku sedih, aku benci. Mengapa tak menggubris? Apa salahku hingga kau hanya diam saja? Lidahku terasa pahit tak sanggup merasa setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. Nasi dan tempe kesukaanmu bagai menumpang lewat ke dalam setiap organ tubuhku untuk kemudian keluar kembali. Selang-selang pada tubuhmu membuatku bingung. Mengapa harus berada disana? Bukankah itu selang yang selalu kita pakai untuk menyiram lili kesukaanmu? Sudah 14 hari kita tak menyiram lili lagi. Selang itu membuatmu terperangkap dan aku hanya bisa meratap. Ia menang atasmu untuk kali ini. “Gie, kamu cinta nggak sama saya?” “Kenapa kamu nanya gitu? Pastilah saya cinta sama kamu” “Kenapa kamu bisa cinta sama saya?” “Kenapa ya?” “Ayo dong jawab. Masa kamu nggak tahu kenapa kamu bisa cinta sama saya?” “Saya nggak bisa jelasin, tapi saya bener cinta sama kamu” “Gimana saya mau percaya kalau kamu nggak jelasin alasannya?” “Saya nggak tahu gimana ngejelasinnya. Yang pasti saya suka, saya sayang, saya cinta sama kamu” “Bohong kamu. Andi aja bisa ngejelasin alasan kenapa dia bisa cinta sama Sasi. Masa kamu nggak bisa sih Gie? Saya pengen tahu alasan kamu” “Gimana kalau saya kasih bukti aja? Terlalu sulit buat saya ngungkapinnya lewat kata-kata” “Nggak mau” Aku selalu bingung dibuat oleh pertanyaanmu dan semakin bingung kala kau tak mau kuberikan bukti. Pada akhirnya aku harus membohongimu. Setiap alasan mengapa aku mencintaimu kupaparkan dengan jelas walau hatiku tidak berkata sama. Kau cantik, suaramu merdu, senyummu menggoda, sikapmu bijaksana dan peduli, dan setiap gerakanmu membuat aku suka. Sungguh jawaban ini tak berasal dari hati kecilku, namun aku tahu setiap wanita selalu tersenyum mendengar jawaban ini termasuk dirimu sayang. Memang senyum itu terlukis di wajahmu, sayang itu hanya bertahan sebentar. Mobil itu telah merampas semua milikmu. Kecantikanmu telah musnah, warna merah mendominasi wajahmu yang dulunya putih merona. Senyummu tak lagi bisa kulihat, bibirmu telah kaku dan tak bisa bergerak. Suaramu juga tak bisa kudengar, kau hanya diam, diam, dan diam. Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir merah jambumu. Kau juga tak lagi terlihat bijaksana apalagi peduli. Saat air mata ini tak mampu tertahan, kau tak berusaha untuk menghapusnya. Kau justru diam dan menutup matamu. Sekarang kau tak lagi memiliki hal-hal yang menjadi alasanku mencintaimu. Jika sudah seperti ini, apa kau masih layak untuk kucintai? Haruskah aku tetap mencintaimu di tengah ketidakberdayaan tubuhmu, keburukan wajahmu, dan ketidakpedulianmu? Tidak mungkin aku mencintaimu lagi, karena kau tak lagi sama seperti dahulu. Kau selalu marah jika aku tak mampu mengungkapkan alasanku mencintaimu, hingga akhirnya aku harus berbohong dan mengucapkan alasan yang sama sekali tak ingin kuucapkan. Sejak dulu aku mencintaimu tanpa alasan. Aku tak tahu mengapa aku menyukaimu dan mengapa akhirnya aku mencintaimu. Namun sungguh aku mencintaimu. Detik ini dan untuk selamanya aku tetap mencintaimu. Aku tak peduli bagaimana keadaanmu sekarang, yang kutahu cinta tak membutuhkan alasan.

Amnesia

Gorden putih yang menutupi setengah dari ventilasi yang terbuka itu, membuat cahaya matahari pagi masuk memancarkan sinarnya, hingga meronakan wajahku yang kuning langsat ini. Kehangatannya terlalu dalam untuk dihayati, lalu terbersit dalam hati untuk memejamkan mata sambil berusaha menerka-nerka. Hujan memang baru saja berakhir, lalu pelangi secara beriringan memadu warna di langit dan ditambah dengan pemandangan danau di tepian taman yang bisa kulihat dibalik ventilasi yang setengah terbuka ini. Sungguh membuatku merasa sangat nyaman, betul-betul nyaman. Namun semua kenyamanan itu sirna, ketika aku tersadar, hari itu aku hanya bisa berbaring menyelimuti diri dan terkadang meringis sakit karena bekas luka yang ada di dahiku. Entah apa yang terjadi. Dua hari yang lalu aku baru tersadar, aku sudah dalam keadaan yang tidak layak untuk dikatakan sehat di Rumah Sakit yang menurutku mewah dan aku pun lupa. Lupa, lupa semuanya. Memori yang teringat hanyalah ilmu-ilmu pasti yang sepertinya pernah kupelajari. Bahkan, aku lupa namaku dan dimana alamatku sekarang. “Nabila, sayang.” Lagi-lagi perempuan paruh baya yang mengaku ibuku itu memanggilku dengan sapaan itu. Seperti biasa, setelah Ia memanggilku, Ia membantu tubuhku yang lemas ini untuk terbangun atau lebih tepatnya duduk lalu mengusap-usap pipiku. Aku hanya bisa termangu melihatnya yang selalu tersenyum syahdu kepadaku, namun Ia tak bisa menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya yang keriput itu. Tapi ada hal yang ingin aku ketahui darinya, karena sepertinya ada sesuatu hal yang sedang disembunyikan dariku. “Nabila, ayo makan.. Mama belikan bubur kesukaan kamu.” Ucapnya dengan senyum sumringah. “Bubur kesukaanku? Bubur ini lagi..” “Iya, ini bubur kesukaanmu, ayo makan lagi.” “Hmm ma.. Aku tidak merasakan kenikmatan memakan bubur ini lagi semenjak kemarin. Aku rasa indra perasaku sudah mulai tidak peka dengan makanan enak. Entahlah.. ma.” Wajahnya langsung tertunduk kaku dengan penuh kebingungan. Lalu ia merogoh-rogoh tas belanjaannya dan mencari-cari sesuatu yang hendak ia ambil. Ah, sebenarnya apa yang terjadi dengan semua ini. Apakah aku bukan anaknya? Lalu mengapa ia sangat menyayangiku? Apa yang sedang ia sembunyikan? Aku mengalihkan pandanganku kembali pada ventilasi yang setengah terbuka itu dan kembali menerka-nerka. Ada satu keinginan yang tiba-tiba saja muncul, yaitu keinginan untuk bertemu dengan seseorang. Aku tidak tau dia siapa, tetapi entah mengapa aku sangat merindukannya. Apakah ayahku? Sepertinya kurang tepat. “Oh ini nabila, ada apel, kamu suka kan?” Tegur ibuku kembali dengan sumringah sambil menyuguhkannya tepat di depan wajahku. Seketika pandanganku langsung tertuju padanya. Apel merah itu terlihat sangat segar namun aku seperti tak ada gairah untuk memakannya. “Aku mau pulang saja ma, bertemu ayah, dan siapapun yang bisa kutemui” jawabku dengan menatap mata ibuku dengan lekat-lekat. “Tok tok tok” bunyi ketukan pintu kamar ini, mengalihkan perhatian kami berdua. Ibuku langsung berdiri dan dengan cepat melangkah perlahan-lahan ke arah pintu dan membukanya, lalu menutupnya kembali. Dari kaca buram pintu itu, aku melihat ibuku bersama dengan seorang pria. Tidak terlalu jelas, mereka seperti membicangkan banyak hal. “Mungkin dokter atau petuagas kebersihan di Rumah Sakit ini.” Pikirku. Tak beberapa lama kemudian ibuku kemudian masuk kembali, lalu membuat segumpalan plastik berisi di sudut kamar ini. “Itu apa ma?” Tanyaku penasaran. “Sampah nak, tadi ada di depan kamar, mama buang saja. Petugas kebersihannya gak becus.” “Oh begitu..” kataku dengan nada datar dan sedikit mengangguk. Setelah berjam-jam aku berbincang-bincang dengan Ibu, Ia berniat untuk pulang, dengan alasan masih banyak kerjaan rumahnya yang menumpuk. Lalu ia langsung memalingkan tubuhnya dariku. “Kapan-kapan ajak papa ya ma, aku mau melihatnya.” Ia memberhentikan langkahnya, dan berkata “Iya nak..” dengan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun dan Ia langsung bergegas pergi. Setelah ia pulang, hawa sepi kembali menggerogotiku. Walaupun kehadiran Ibuku tak serta merta membuatku nyaman, namun setidaknya Ia selalu berusaha menemani hari-hariku. Aku mendongakkan kepalaku seraya memejamkan mata. Lalu aku tiba-tiba tersentak dengan pikiran sampah yang tadi Ibuku buang. Aku mengalihkan perhatianku pada tempat sampah itu. Karena rasa penasaran itu, aku berusaha bangun, bukan hanya duduk tetapi berdiri bahkan berjalan dengan tertatih menuju tempat sampah itu. Ketika kubuka tutup tempat sampah itu, ternyata buntelan plastik itu masih ada dan utuh. Aku mengambilnya dan membukanya, tak kusangka itu adalah sebuah nasi bungkus. Kubuka karetnya, lalu bungkus kertas nasinya. Ternyata, itu sebuah nasi uduk dengan iringan lauk ayam goreng dan lalapan yang wangi sekali. Entah mengapa aku berniat untuk mencicipinya. Aku mengambil sesuap nasi itu dengan tanganku, dan menyuapi sendiri ke mulutku. Sungguh enak, aku seperti pernah memakanya, aku sangat menyukainya. Tak sadar aku sudah menghabiskan semua isi di bungkusan itu. Setelah habis, aku buang kertas nasi bekas dan plastik itu ke tempat sampah. Ketika plastik itu terbuang, tiba-tiba ada secarik kertas terlipat yang terjatuh ke lantai. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambilnya lalu membuka lipatannya. Aku melihat sebuah tulisan, “Selamat makan, sayang.. ini makanan kesukaanmu.” Apakah ini dari ibu? Tapi tidak mungkin, ibu bilang makanan kesukaanku bubur. Oh tapi bisa jadi ia mempunya banyak pilihan makanan untukku yang Ia pikir aku tak suka. Seminggu telah berlalu dan aku juga belum pernah menemui ayahku. Ibu mengajakku untuk pulang dan berjanji akan mempertemukan aku dengan ayahku. Di dalam mobil, aku hanya terdiam menunggu-nunggu untuk sampai ke rumah. Aku hanya ingin mencari tau siapa orang yang sebenarnya ingin kutemui. Ayahku atau orang lain. Ketika sampai, aku melihat sekeliling perkebunan dan rumah yang sepertinya sudah familiar, namun sepertinya aku tak menjamin kenyamanannya. “Itu papamu nak”. Aku melihat seorang laki-laki tua di depan rumahku dan langsung memelukku erat. Aku senang, namun sepertinya perhatianku tidak tertuju padanya. Aku kembali frustasi dengan keingintahuanku itu. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hujan belum juga berhenti. Aku duduk di ruang tamu, sambil menonton tv. Kusenderkan bahuku ke sofa, lalu kualihkan kembali perhatianku pada jendela yang setengah terbuka di samping pintu masuk. Aku melihat sosok seorang pemuda, berdiri di depan pagar rumahku, berbolak balik dan keliatan agaknya mencurigakan. Karena aku takut, kuurungkan niatku untuk memenuhi rasa penasaranku. Aku langsung berlari masuk ke kamar dan menutup diri dengan selimut yang ada di tempat tidurku. Ketika kurebahkan tubuhku ke tempat tidur, di samping bantalku terdapat sebuah tas jinjing yang kotor seperti sehabis terlindas ban mobil besar. Di dalamnya terdapat handphone, dan dompet. Aku buka dompet itu dan berusaha mencari tau. Foto yang tertera di dompet itu adalah jelas fotoku dan berarti tas ini adalah milikku. Ada juga gumpalan kertas yang seperti habis diremas-remas. Kubuka perlahan-lahan kertas itu dan tertera tulisan “SURAT PHK” dan ada nama “Hadi Purnama.” Ah mengapa aku memiliki perasaan cemas, kepalaku langsung sakiit dan tak kuasa menahan air mata. Terlintas bayangan samar-samar seorang laki-laki, ia tersenyum. Oh tiba-tiba terbayang wajah ibu dan ayah yang sedang bertengkar. Ah, ada apa ini?!! Tangisanku langsung pecah. Sepanjang malam aku hanya menangis memeluk tas kotorku itu. Jam sudah menunjukkan jam 12 malam dan hujan masih awet, masih nyaman untuk terus jatuh lalu menggenangi jalanan. Aku tak mengerti jalan hidupku, aku ingin pergi dari rumah ini karena yang ada di pikiranku adalah agar aku bisa bertemu dengan orang yang bernama Hadi Purnama. Aku pergi diam-diam dari rumahku tanpa arah dan tujuan lalu menangis tersedu-sedu di jalan seperti orang tak waras. Tiba-tiba aku lemas tak berdaya lalu terbaring begitu saja di jalanan, dibaluti oleh guyuran hujan dan genangan air. Suara kicauan burung membangunkan tidurku. Tiba-tiba aku sudah berada di tempat tidur dan ada suguhan nasi uduk dan ayam serta lalapan wangi di samping tempat tidurku. Aku hampir mengingat susana ini, kamar yang ada sekarang. Kembali aku dikagetkan dengan pintu kamar yang terbuka oleh seorang pemuda. Ya, pemuda itu adalah yang orang yang kulihat bolak-balik malam kemarin di rumahku. Dia… dia adalah… dia adalah.. aku berusaha mengingatnya. Ia menatapku lekat-lekat dan mengusap-usap pipiku. Tangisku kembali pecah dan aku langsung memeluknya erat. “I love you Hadi, maafkan aku..” itu yang aku ucapkan pertama kali padanya karena tak lain Ia adalah suamiku. Aku ingat, bagaimana Ia begitu menyayangiku selama setahun ini. Dan aku juga ingat bagaimana keadaan pada saat suamiku diPHK oleh kantornya. Ketika aku tahu kabar PHK itu, aku langsung meremas kertas itu dan memeluknya sambil mengatakan bahwa jangan pernah takut karena aku akan selalu bersamanya. Namun, agaknya tak seperti itu yang dipikiran ibuku. Ia menyuruhku untuk menceraikan suamiku, dan melarang aku untuk kembali tinggal bersamanya. Aku juga ingat, bagaimana keadaan keluargaku pada saat-saat ibu dan ayahku bercerai 2 tahun yang lalu. Ibu sangat membenci Ayahku. “Makasih ya sayang, kamu masih mengingatnya..” ucapnya lalu mengecup kenigku. “Sayang, mengapa tak kau jenguk aku selama di rumah sakit?” “Mamamu.. mamamu yang tak memperbolehkan aku untuk..” Ia berhenti berucap, seperti menahan pedihnya sesuatu yang tertancap di hatinya. “Aku tahu aku tahu sayang..” ucapku seraya kembali menenangkannya, dan merebahkan dirinya di pangkuanku. Aku kembali memeluknya erat, aku sangat menyayangi suamiku dan aku takkan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun. “Aku pikir kamu mati dalam kecelakaan itu nabila..” Aku hanya terdiam dalam dekapannya sambil terus menangis mendengar ucapannya itu. Ternyata orang yang kucari itu adalah suamiku. Mungkin karena aku sangat mencintainya, dalam keadaan amnesia pun aku tetap merindukan keberadaanya.

Jangan Pergi

Eci adalah Gadis remaja yang berusia 15 tahun. Eci adalah gadis yang lucu, imut dan juga cantik. dia juga wanita terfavorit di sekolahnya, siapa sih yang gak kenal sama Eci? dia mempunyai 2 sahabat yang bernama felys dan Jasmine, mereka berdua baik banget sama Eci. Teng..!!! Teng!!! Teng!!! lonceng pun bunyi waktunya pulang “eh Eci gue pulang duluan yah, soalnya gue mau ke rumah tante gue, biasa ada hajatan” kata Felys “iya udah gak papa” jawab eci mengangguk “Gue juga ci mau cabut soalnya papa gue udah jemput”. kata Jasmine buru-buru. Sekolah pun tampak sepi, anak-anak sudah pulang. Tinggal Eci yang duduk sambil menunggu sopir pribadinya. “Aduh!!, lama banget, mana sendiri lagi disini”. sambil mengotak-ngatik handpone. “DOR!!!” kejut ray dari belakang “eh kamu Ray, aku kirain tadi setan, hahha” “kamu belum pulang?” “belum, aku lagi nunggu jemputan” “Jemputan siapa ci? pacarnya yah?” “eh nggak, sopir pribadi gue” “huuu, aku kira pacar kamu!” “Gak nyangka Ray negur aku, hmm.. kayak ngerasa mimpi nih, mana aja cowok sekece dia, bisa negur aku makasih Tuhan” kata eci dalam hati. “eh eci kok kamu malah bengong?” sambil melambai-lambai tangan “gak-gak kok, aku gak bengong” “daripada kamu bengong kayak gini, mending kamu pulang bareng aku aja gimana?” “Hmmm.. tapi aku udah minta jemput” “Ayo donk, satu kali ini aja, please!!” “iya-iya” ambil sms sopirnya kalau dia gak usah jemput Saat di jalan ray dan eci pun cerita-cerita, hati eci pun mulai dag-dig-dug. Eci sudah lama kagum sama ray dan eci suka sama Ray. “Rumah kamu dimana ci?” “Di jalan Terompet nomor 7 Ra” “oh iya-iya” Sesampai di depan rumah eci Ray berkata “ci, mau gak nanti malam kita jalan” “ok emang jam berapa?” “sekitar jam 19.00, gimana.” “ok!!” “aku pulang dulu ya eci” “ya udah kamu hati-hati Ray, maksih udah ngantar aku pulang” “ok cantik sama-sama” Eci pun capek, dan dia pun tertidur, selesai tidur eci nonton tv, kebetulan filmnya bagus cocok banget film cinta-cintaan. “Bik!” teriak Eci. “ya non ada apa?” “tolong buatin Jus strawbwrry kayak biasanya ya bik” “Baik non”. Karena terharu, eci pun menangis. sementara bik nena mengantarkan jus strawberry kesukaannya Eci, “non ini jusnya”. “iya bik, maksih” “iya non sama-sama, loh kok non nangis?” “gak ah bik cuma sedih aja liat filmnya” “ya udah bibi ke dapur dulu non” “ya bik” Adzan pun berkumandang dan Eci segera melaksanakan sholat magrib, selesai sholat eci langsung buru-buru. “waduh, aku harus buru-buru nih, nanti Ray udah mau jemput” Eci pun siap-siap mau dandan, ia dandan secantik mungkin dan memakai gaun kesayangannya yang berwarna biru itu. Tepat pukul 19.00 bik nena pun memanggil eci, “maaf non, ada laki-laki yang mau ketemu non” “Hmm.. itu pasti ray, makasih bik” “sama-sama non” Eci pun bergegas cepat-cepat mau ketemu Ray “Hey ray, kamu udah lama yah nunggu aku?” “oh gak ci, ayo jadi kan jalannya?” “iya jadi, ayo” Setelah keiling-keliling, Ray pun mengajak eci ke cafe. “kok kita kesini Ray?” “iya, aku tau kamu lapar kan” “Eci pun tersenyum malu” Selesai memesan makanan, Ray menepuk tangan sampai 3 kali, kembang api pun berwarna-warni di atas langit. TORR!! TORR!! TORR!!, “eci coba kamu liat diatas langit sana”, kata ray sambil menunjuk tulisan I LOVE U ECI. “WAW!!, bagus banget ray, itu kamu yang ngerencanain”. Ray pun mengangguk ray megajak eci duduk di depan danau, dan dikelilingi lilin-linin kecil. Ray pun mengasih eci setangaki mawar merah. “ini buat kamu ci” “Wah, makasih yah ray kamu bisa tau kalo aku suka mawar merah.” “iya donk, apa yang gak tau tentang kamu ci, eci aku mau ngomong sesuatu sama kamu”. “emangnya kamu mau ngomong apa sama aku Ray?” “Eci sebenarnya aku suka kamu dan aku juga sayang sama kamu, kamu mau kan jadi pacar aku?” sambil memegang tangan eci Eci mulai kaku, gugup dan gak nyangka kejadiaannya bisa kayak gini. “iya… iy.. ya Ray aku mau kok jadi pacarnya kamu”. “makasih yah eci aku bakal setia, dan aku pengen kamu jadi milik aku seutuhnya, dan gak ada satu pun lelaki yang bisa memiliki hati kamu” “iya ray, aku akan jaga hati aku” Jam menunjuk angka 22.00, mereka pun pulang sampe di rumah eci pun senang bisa jadian sama Ray, dan gak nyangka bisa jadian sama ray. Keesokan harinya felys dan jasmine pun menggosek Eci tentang kejadian tadi malam. “ciyee Eci, udah jadian nih sama sih ray” kata Felys “iiisss felys apa-apaan sih, aku gak jadian kok sama Ray”. “Aduh gak mau ngaku lagi, Boong yah sama kita, Ray sendiri kok yang bilang sama kita, ya kan felys” “heehehe iya, ngomong-ngomong jangan lupa traktirannya” “ok, tenang aja” Bel masuk pun bunyi dan para siswa pun masuk kelas seperti biasanya. Siang harinya pulang sekolah, sekitar jam 14.00 felys, dan Jasmine ditraktir makan bakso “eh iya ci, gimana sih asal muasalnya kamu itu bisa jadian sama Ray?” kata Jasmine “susah ngejelasinnya Jasmine” “Hmm… pasti romantis banget kan?” “HIHI, Iya pasti donk” Selesai itu mereka pun pulang ke rumah masing-masing 3 tahun kemudian adalah akhir perpisahan dan banyak sekali kebahagiaan, suka maupun duka yang mereka lewati bersama, saat perpisahaan sekolah, mereka bertiga berpelukan dan menangis. “Eci, jasmine, semoga kalian ingat terus ya sama aku, kalian gak boleh ngelupain aku” kata felys. “Felys, Eci aku juga gak bakal ngelupain kalian berdua” jawab Jasmine “iya Jasmine, Felys aku juga gak bakal ngelupain kalian berdua, ini kado janji kita dulu, kalau kamu kangen sama aku, liat aja isi kado ini. kalian tetap selalu ada di hati aku walaupun kita jauh, aku gak bakal ngelupain felys yang imut dan juga jasmine yang manis. aku sayang kalian berdua” Mereka pun berpelukan bertiga dan Ray pun memanggil eci “eciiii” “ya ray, kenapa?” “besok aku mohon sama kamu, kamu mau kan antar aku kebandara” “emang kamu mau kemana?” Keesokan harinya ecipun mengantar ray ke bandara. Dan ray memberikan sesuatu pada eci, yaitu sebuah cicin. “eci ini cincin dariku, tolong dijaga dan dirawat dengan baik yah. soalnya aku mau ngelanjutin sekolah aku di luar negeri” “ray jangan tinggalin aku” “tapi gimana ci, aku juga gak mau ninggalin kamu, kamu baik-baik yah” “iya ray, kamu jangan nakal yah” “iya aku gak nakal kok, bye eci” “bye ray”. Udah hampir 2 tahun eci dan ray berhubungan jarak jauh, dan eci sangat merindukan ray. handpone eci berbunyi ternyata yang menelpon ray “hai eci” “hai juga” “kamu gimana kabarnya?” “baik, kamu?” “aku juga baik, oh ya eci aku bentar lagi akan pulang ke prabumulih”, “beneran?” “iya aku mau ngerayain ulang tahun nya kamu.” “hm.. makasih ray” Panggilan pun terputus, keesokan harinya saat bik nena nonton tv cepat-cepat bik nena memanggil eci. “non eci!!” “iya bik kenapa?” sambil membawa secangkir susu cokelat “itu non lihat di tv” “ASTAGA!!! ray” gelas pun pecah “itu gak mungkin ray, itu bukan ray bik”. “itu ray non” kata bik nena memastikan. RAY ADITYA WINATA penumpang dari BANGKOK. oh ray aku gak nyangka bisa kayak gini, ya Tuhan kenapa ray harus pergi secepat itu.

A Hope of Disha

Di malam yang gelap itu, aku termenung sendirian di dalam kamarnya. Ya, aku adalah Disha. Aku sedang memikirkan kekasihku yang sangat aku sayangi. “Disha” 1 pesan SMS masuk di handphoneku dari kekasihku, Mas Akhmad. Ya, nama kekasihku adalah Mas Akhmad. “Iya mas, ada apa?” aku pun membalas SMS dari kekasihku. Walaupun sebenarnya aku terlalu berat untuk membalas pesan SMS dari Mas Akhmad. Karena, ada masalah di antara kita. 1 minggu yang lalu, aku diajak kencan sama Mas Akhmad. Tetapi, aku menolaknya. Karena, aku ada janji sama Dwi, sahabatku. “Ya sudah kalau kau tak mau kencan denganku, aku akan kencan dengan perempuan lain” pesan dari Mas Akhmad di handphoneku. ALLAHU AKBAR. Aku pun tidak membalas pesan SMS dari Mas Akhmad. Di hari libur, semua anak akan merasa senang karena akan libur panjang. Tetapi, tidak denganku. “Sayang” SMS masuk dari Mas Akhmad. Aku tidak langsung membalas SMS dari Mas Akhmad. Di hatiku, masih ada rasa kecewa kepada Mas Akhmad. 15 menit kemudian, aku pun membalas SMS dari Mas Akhmad. “Apa” hanya satu kata yang kukirimkan untuk membalas pesan SMS dari Mas Akhmad. — “Dwi, aku sakit hati. Tega teganya Mas Akhmad bilang kayak gitu sama aku. Sebenernya Mas Akhmad sayang gak sih sama aku. Sampai sampai Mas Akhmad kayak gitu sama aku.” Ujarku yang sedang mengeluarkan unek uneknya kepada Dwi, sahabatku. “Kamu yang sabar aja, Dis. Dia sayang kok sama kamu. Mungkin dia lagi ngetes kamu Dis” Ujar Dwi memberi kesimpulan kepadaku. “Apa Dwi? Ngetes? Tapi kan gak segitunya kalo Mas Akhmad mau ngetes perasaan aku” Ujarku yang emosi tetapi dicoba untuk ditahan. “Yang sabar ajah, Dis. Mungkin, Allah sedang memberi cobaan biar kamu tetap tegar” Ujar Dwi kemudian memelukku. Malam minggu pun tiba. Tetapi aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Menangisi kekasihku yang sangat aku cintai. Mas Akhmad, sebenernya Disha sayang banget sama Mas. Disha kayak gitu sama Mas karena Disha gak mau kehilangan Mas. Ya allah, lindungilah Mas Akhmad untukku, jagalah hati Mas Akhmad untukku, karena aku sangat menyayangi Mas Akhmad. Mas Akhmad, aku sayang banget sama Mas. Semoga Mas Akhmad selalu berada dalam naungan Allah S.W.T. Aamiin. - The End -

Tuesday, September 16, 2014

First Love Story

Ini kisah tentang cinta pertamaku.. Entahlah, apakah perasaan ini layak disebut cinta atau bukan, yang pasti perasaan itu masih ada menempel dengan kuatnya dihatiku.. Karena menurutku cinta memang tak terdefinisikan dan hanya bisa dirasakan. Tahun 2002 Aku menyukainya jauh sebelum dia mengenalku.. Kami dipertemukan di kota tempat kami menimba ilmu, aku sering berkumpul dengan teman-temannya, kadang kami berada di satu tempat yang sama namun tak pernah menyapa satu sama lain, mungkin karena dia sedang asyik dengan kekasihnya saat itu dan tak pernah menyadari kehadiranku. Rasa itu kusimpan rapat dan kubiarkan mengendap didalam hati. Tahun 2003 Ada sms dari nomor tak dikenal, aku melonjak kegirangan setelah tahu pesan singkat itu dari dia yang ingin berkenalan denganku dan ternyata dia sudah putus dari kekasihnya. Hari-hariku pun menjadi berbunga, kami bisa menghabiskan ratusan sms sehari untuk bercerita tentang hal yang sebenarnya tidak penting, kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan lewat telephone semalam suntuk (saat itu ada provider baru yang promosi ratusan sms sehari dan nelpon gratis semalaman) Aku tahu dia menyukaiku, tapi kenapa dia tak pernah mengatakannya langsung kepadaku? Aku mengetahui semua itu hanya dari temannya dan dari pesan singkat yang dikirimnya, sebenarnya aku ingin dia mengatakan itu dihadapanku, aku selalu menunggu dia mengatakan suka padaku tapi hal itu tak pernah terjadi. Mungkin dia menganggapku tak menyukainya sehingga dia pun menjalin kasih dengan sahabatku. Rasa itu kembali kusimpan dan kubiarkan mengendap didalam hati. Dia dan temanku tak bertahan lama, entah kenapa perasaanku sangat senang saat dia kembali sendiri, tapi tak lama kemudian dia bersama perempuan lain lagi, akupun kembali kecewa. Hal itu tidak mengurangi keakraban kami, walaupun tidak sedekat dulu lagi. Rasa itu tetap kusimpan dan tetap kubiarkan mengendap dihatiku. Tahun 2006 Akhirnya kami harus berpisah dan kembali ke kota masing-masing. Komunikasi kami masih cukup baik, setidaknya aku masih tahu kabar tentangnya. Kami sudah hidup dijalan masing-masing dan akupun sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Rasa itu tetap ada dan masih mengendap dihatiku. Tahun 2007 Berawal dari pertanyaan iseng melalui sms, “kapan kau akan menikahiku?” Aku kaget dengan jawabannya, dia ingin agar aku menunggunya menyelesaikan pendidikannya dulu. Sebenarnya aku sangat ingin mengiyakan. Tapi menunggu beberapa tahun tanpa kepastian? Lagipula tempat tinggal antara aku dan dia sangat jauh dan tidak memungkinkan untuk bersama kecuali salah satu dari kami mengalah (saat itu aku tidak mau mengalah untuk hal ini) Dan aku sudah mempunyai kekasih! aku tak mungkin mengkhianati komitmenku. Ah lagipula aku tidak tahu dia serius atau cuma bercanda dengan ucapannya itu. Akupun tak memikirkan hal itu lagi. Rasa itu kucoba menghilangkan tapi tetap mengendap dihatiku. Tahun 2009 Dia kembali! Aku sudah bekerja di kota lain, dia pun bekerja di kota yang tak jauh dari kota tempatku bekerja. Kami memang tak pernah bertemu tapi masih berkomunikasi lewat situs jejaring sosial. Rasa itu masih ada dan kubiarkan terus mengendap dihatiku. Tahun 2011 Kami bertemu! Ternyata sekarang dia tinggal di kota yang sama denganku. Hariku kembali berbunga. Dia mampu membangkitkan hidupku yang baru saja mengalami kegagalan cinta. Pernah aku berpikir kalau dia adalah jodohku, dari sekian banyak kisah yang kami alami dan sekian tahun terpisah tapi akhirnya dipertemukan kembali di suatu kota yang tak pernah kami pikirkan sebelumnya. Aku sangat bahagia. Aku kembali jatuh cinta dengannya. Tapi itu tak berlangsung lama, ternyata dia sudah mempunyai kekasih. Akupun berangsur-angsur menjauh karena tak ingin merusak kebahagiannya bersama perempuan itu. Sungguh hal itu sangat menyiksaku, aku tak dapat menahan perasaan yang sudah lama kupendam. Aku ingin mengakhiri perasaan itu, aku pun mengatakan apa yang kurasakan padanya. Aku tak ingin mendapat jawaban atas perasaanku, aku hanya ingin meluapkan apa yang kurasakan dan berharap dapat mengakhirinya. aku tak ingin merasakan penyesalan seumur hidup karena tak pernah mengatakan perasaan pada orang yang kucintai. Setidaknya itu dapat mengurangi bebanku dan dapat membuatku melupakannya. Rasa itu semakin menyakitiku dan mengendap semakin dalam dihatiku. Tahun 2012 Cinta pertama terlalu manis untuk dilupakan. Ya, aku takkan melupakannya. Kami masih berteman baik, dia masih ada disaat aku memerlukan seseorang untuk berbagi bebanku. dan rasa cinta itu tak akan kuhilangkan, tetapi akan ku rubah menjadi rasa cinta dalam bentuk yang lain. aku akan menyayanginya sebagai sahabatku. Dulu aku menganggap kalimat “aku bahagia bila kau bahagia” adalah omong kosong, ternyata setelah mengalaminya sendiri aku membenarkan kalimat tersebut. Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai memilih kebahagiannya sendiri ternyata juga bisa memberikan kebahagiaan bagi kita. Semoga aku pun bisa menemukan kebahagiaanku sendiri. Rasa itu akan terkikis dan akhirnya tak lagi mengendap dihatiku. Karena tak semua kisah cinta berakhir bahagia.